DEAR BAPAK IBUKKU
Kali ini aku ingin bercerita, atau lebih tepatnya mencurahkan isi hatiku, tentang masa kecilku bersama kakek-nenek yang kupanggil Bapak-Ibuk. Masa sebelum usiaku genap 7 tahun, saat Abi menikahi Ummi dan membawa sertaku tinggal di Jakarta. Bapak dan Ibuklah yang merawat dan mengurusku di Magelang, sejak masih bayi, karena ayah dan ibu kandungku punya takdir masing-masing. Keduanya ditakdirkan tak lagi bersama. Cerai hidup. Aku memang terbiasa memanggil keduanya "Bapak" dan "Ibuk", meskipun seharusnya aku memanggil mereka "Mbah Kakung" dan "Mbah Putri". Ummi yang memilihkan panggilan tersebut. Bisa jadi, untuk mengalihkan perhatianku dari Ayah yang tak lagi membersamai kami. Agar keduanya menjadi seperti ayah dan ibu sendiri, merasa memiliki orangtua lengkap. Begitu juga dengan anak bontot Ibuk, adik Ummi yang paling kecil, aku memanggilnya "Mbak", padahal seharusnya kupanggil "Tante". Ingatanku mulai kuat di usia 5 atau 6 tah...