Postingan

DEAR BAPAK IBUKKU

 Kali ini aku ingin bercerita, atau lebih tepatnya mencurahkan isi hatiku, tentang masa kecilku bersama kakek-nenek yang kupanggil Bapak-Ibuk. Masa sebelum usiaku genap 7 tahun, saat Abi menikahi Ummi dan membawa sertaku tinggal di Jakarta. Bapak dan Ibuklah yang merawat dan mengurusku di Magelang, sejak masih bayi, karena ayah dan ibu kandungku punya takdir masing-masing. Keduanya ditakdirkan tak lagi bersama. Cerai hidup. Aku memang terbiasa memanggil keduanya "Bapak" dan "Ibuk", meskipun seharusnya aku memanggil mereka "Mbah Kakung" dan "Mbah Putri". Ummi yang memilihkan panggilan tersebut. Bisa jadi, untuk mengalihkan perhatianku dari Ayah yang tak lagi membersamai kami. Agar keduanya menjadi seperti ayah dan ibu sendiri, merasa memiliki orangtua lengkap. Begitu juga dengan anak bontot Ibuk, adik Ummi yang paling kecil, aku memanggilnya "Mbak", padahal seharusnya kupanggil "Tante". Ingatanku mulai kuat di usia 5 atau 6 tah...

DEAR PELIHARAAN KU

  Aku bukan tipe gadis yang suka binatang. Sampai umur sepuluh tahun, aku merasa jijik pada kucing. Mereka menjilat tubuh sendiri, buang kotoran sembarangan, dan bulunya… bisa menempel di mana-mana. Rasanya seperti sesuatu yang tak bisa kukendalikan. Aku merasa jijik, tapi di saat yang sama juga takut. Mungkin itulah alasan aku menjauhinya selama ini. Namun, entah kenapa suatu hari aku tiba-tiba meminta kucing pada Ayah kandungku. Aneh memang, karena kami tidak dekat. Sejak bayi, aku tak pernah diasuhnya. Tapi di saat itu, keinginan punya kucing tiba-tiba muncul begitu saja dalam hatiku. Dan yang lebih aneh lagi, permintaan itu dikabulkan. Datanglah seekor anggora putih bermata biru jernih. Namun yang menarik bukan hanya kucingnya, melainkan juga kandang cantik yang membungkusnya—hadiah dari Bunda, istri baru Ayah. Kandang plastik warna pastel dengan pintu kawat yang rapi, seperti sebuah istana kecil untuk Puspa, begitu kami menamainya. Nama itu kami pilih karena bulunya seputih bu...

DEAR ABIKU

Gambar
  Di Masjid Istiqlal, Umi dan Abi pertama kali bertemu. Mereka mulai saling mengenal dan berencana untuk menikah. Waktu pun berlalu hingga akhirnya tiba hari pernikahan yang dilangsungkan di kampung halamanku. Saat itu, aku melihat mobil Ergi datang. Abi mengenakan baju koko putih dan datang bersama keluarganya, yaitu Opa, Kakak Erin, Bude Yuli, Pakde Kris, dan Aunty Santy. Mereka hadir untuk menyaksikan akad nikah. Sementara itu, Umi tengah bersiap-siap menjelang acara. Ketika waktu telah tiba, akad nikah pun dimulai. Setelah proses ijab kabul selesai, alhamdulillah, Umi dan Abi sah menjadi suami istri. Mereka saling mencium tangan, berfoto bersama dengan buku nikah dari KUA, saling menyematkan cincin, serta berpose bersama keluarga sebagai tanda kebahagiaan yang baru saja dimulai. Abi, setelah aku mengenalmu, aku sempat bingung harus berbuat apa. Sebab Abi telah banyak berbuat baik kepadaku. Bahkan, Abi sering mengusahakan segala hal yang aku butuhkan, tanpa diminta. Terima kasih...

DEAR SAHABATKU

Gambar
 Saat aku mulai menginjak bangku sekolah dan mengenal pendidikan menengah atas, perlahan aku mulai memahami alasan mengapa Umi meninggalkanku saat masih kecil. Dan, mengapa Ayah kandungku berpisah dengan Umi. Ilmu pengetahuan dan perasaan yang bertumbuh membantuku dalam memahami situasi broken home yang kami alami. Semuanya manusiawi, bagian dari takdir ilahi yang harus dijalani dengan ikhlas dan tabah. Singkat cerita, Umi pun bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Sebagai single parent, orang tua tunggal yang menafkahiku. Sekian waktu berlalu, hingga seorang temannya memperkenalkan seorang pria kepada Umi. Awalnya, ibu kandungku ini tidak tertarik. Namun, seiring berjalannya waktu, Umi mulai membuka hatinya. Pria itu ingin bertemu dan berkenalan dengan Umi. Keesokan harinya, aku, Umi, dan keluarga kami bersiap-siap pergi ke Masjid Istiqlal untuk bertemu dengan pria tersebut. Ternyata, pertemuan itu adalah awal dari proses ta'aruf antara Umi dan pria itu. Ya, dialah y...

DEAR UMIKU

Gambar
 Assalamualaikum, Umi, apa kabarmu? Semoga Allah senantiasa memberi kita nikmat sehat, ya. Tentunya, setelah nikmat Islam dan iman. Sebelum ini aku curhat soal diri sendiri, lalu tentang keluarga kecil maupun besar kita, nah boleh donk kalau sekarang aku ingin menuangkan biografimu. Kisah hidupmu. Perjuanganmu. Keluh-kesahmu. Bahkan suami barumu, Abi, yang kini setia menemanimu dalam membesarkanku beserta tiga adik laki-lakiku.  Umiku tersayang.... Jauh sebelum aku dilahirkan ke dunia, kabarnya engkau gigih mencari pendidikan terbaik. Selalu berusaha meraih prestasi akademik. Menjadi juara kelas, atau setidaknya urutan tiga besar. Sungguh hebat, luar biasa, sudah sukses sedemikian rupa. Dengan satu motivasi: membahagiakan kedua orang tua, Bapak-Ibuk yang kini tinggal bersamaku di Magelang. Aku ingin sepertimu. Ternyata tidak mudah, tidak segampang membalik talapak tangan. Atau mengedipkan mata. Walaupun aku sudah berusaha mati-matian. Tapi setiap orang memiliki keterbatasan, j...

DEAR KELUARGAKU

Gambar
  Ini adalah kisahku yang lain. Bukan ketika aku masih SD dan mengalami dilema memiliki "keluarga baru". Tepatnya, sosok ayah yang sekian lama kurindukan benar-benar dihadirkan. Oleh Sang Pencipta, satu-satunya tempatku mengadu. Sejak itu, Alhamdulillah, hatiku lebih tenang. Kupikir rasa itu abadi, lekang, terus ada. Polosnya diriku, belum tahu hakikat hidup yang sesungguhnya. Realitas kehidupan yang tak selamanya berpihak pada kebahagiaan. Aku pun menyadarinya, harapan dan kenyataan yang diinginkan manusia berbeda-beda. Tidak selalu sama, perlu pembelajaran khusus. Lewat pengalaman personal, pribadi sifatnya. Pastinya kita tak tahu-menahu ke mana arah takdir ilahi. Maka wajib ridha, utamanya itu. Tentu setelah ikhtiar dilakukan. Dilema yang terjadi pada keluargaku. Di kisahku kali ini. Dari sudut pandang seorang remaja yang "terpaksa" merantau mengikuti orang tua tercinta. Libur Lebaran Akhir semester di MTS Al-Ikhwaniyyah, sekolahku. Tangerang kota daerahnya,...

DEAR KALBUKU

Gambar
Masa kecilku di kelas 1 dan 2 SD, ketika aku tinggal bersama nenek dan kakek, penuh suka dan duka. Kami tinggal di Kampung Tidar Warung, Magelang. Tidak hanya bertiga, tetapi ada sepupuku, tanteku, dan pamanku. Mereka setia menemaniku sejak bayi. Orang tuaku? Keduanya di Jakarta. Mencari nafkah untukku. Yang satu kukira sudah tiada, ayahku. Yang satu selalu ada walau terpisah jarak dan waktu, dialah ibuku. Ibuku bekerja di RSCM , rumah sakit ternama. Sibuk. Benar-benar sibuk. Itu yang kurasakan. Walau ia biasa pulang menjengukku sebulan sekali, bahkan kadang dua kali. Aku yang saat itu tak selalu ditemani sosok seorang ibu merasa bingung. Setiap kali ia pulang, rasa rindu hadir. Tapi di sela-sela itu rasa sedih ikut terasa, terbayang perpisahan yang pasti datang. Kejadian yang berulang karena kondisi kami. Mungkin dari situ muncul reaksi membisu, tidak tahu harus berbuat apa dan berkata apa kepadanya. Itulah sosok wanita yang kucintai tapi tak selalu ada di sisi. Seiring bertambah...