DEAR SAHABATKU
Saat aku mulai menginjak bangku sekolah dan mengenal pendidikan menengah atas, perlahan aku mulai
memahami alasan mengapa Umi meninggalkanku saat masih kecil. Dan, mengapa Ayah kandungku berpisah dengan Umi. Ilmu pengetahuan dan perasaan yang bertumbuh membantuku dalam memahami situasi broken home yang kami alami. Semuanya manusiawi, bagian dari takdir ilahi yang harus dijalani dengan ikhlas dan tabah.
Singkat cerita, Umi pun bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Sebagai single parent, orang tua tunggal yang menafkahiku. Sekian waktu berlalu, hingga seorang temannya memperkenalkan seorang pria kepada Umi. Awalnya, ibu kandungku ini tidak tertarik. Namun, seiring berjalannya waktu, Umi mulai membuka hatinya. Pria itu ingin bertemu dan berkenalan dengan Umi.
Keesokan harinya, aku, Umi, dan keluarga kami bersiap-siap pergi ke Masjid Istiqlal untuk bertemu dengan pria tersebut. Ternyata, pertemuan itu adalah awal dari proses ta'aruf antara Umi dan pria itu. Ya, dialah yang kini aku panggil Abi. Setelah proses perkenalan, keluarga kami menyetujui hubungan tersebut, dan akhirnya ditentukan tanggal akad nikah mereka. Alhamdulillah, Umi dan Abi menikah di akhir tahun 2015. Sejak saat itu, kami bertiga menjadi keluarga baru yang berharap bisa mewujudkan rumah tangga harmonis.
SDN 03 REJOWINANGUN
ada waktu itu, aku masih tinggal di Jawa. Tidak langsung ikut karena harus menyelesaikan semester II kelas 2 di SDN 03 Rejowinangun. Enam bulan setelah Umi menikah, saya pun dibawa pindah ke Jakarta, ikut tempat tinggal bersama Abi. Aku pun ikut bersama kedua orang tuaku yang baru dengan suka-dukanya tersendiri. Sejak saat itulah, aku memiliki sosok ayah baru yang kucintai dan kuhormati—Abi.
Sebelum pindah, aku harus pamit kepada keluarga di kampung. Terutama kepada Mbah Putri dan Mbah Kakung yang merawatku sejak bayi. Umi menggugat cerai Ayah kandungku di saat aku belum lama dilahirkan, karena tak tahan dimadu. Perlakuan tidak adil terasa menyakitkan baginya, sampai merasa tidak mampu lagi menjalankan perannya sebagai istri. Aku juga mengurus surat pindah dari sekolah. Proses perpisahan itu sangat menyedihkan. Rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Meninggalkan keluarga besar dan kampung halaman bukanlah hal mudah bagiku.
Namun, aku belum benar-benar berpisah dengan teman-temanku di SDN Rejowinangun 3. Mereka masih ada dalam ingatanku, dalam setiap kenangan indah masa kecilku. Salah satu teman dekat yang kuingat adalah Talita dan Anisa. Keduanya suka jajan bersamaku, juga pulang bersamaku. Di luar waktu sekolah, aku pun suka bertemu mereka. Rumah Talita dekat Artoz, sebuah mal besar di Magelang.
Kini aku menyadari, semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah yang terbaik. Kenapa di tengah jalan proses belajar di pendidikan dasar harus terputus. Juga harus ikut Umi dan suami barunya pindah ke Jakarta. Pada intinya, aku bersyukur memiliki keluarga yang mencintaiku dan mendukungku. Aku juga bersyukur memiliki Abi, yang kini menjadi sosok ayah pengganti dalam hidupku.
SDIT AR-RAHMAN
Setelah berpisah dengan teman-temanku di kampung, aku ikut kedua orang tuaku pindah ke Jakarta. Di sana, kami tinggal dekat rumah nenek dan kakek dari pihak ayah baruku. Keluarga Abi memanggil mereka: Opa dan Oma. Ternyata Oma dalam kondisi pemulihan dari sakit kerasnya, tampak Umi yang memang berprofesi sebagai suster begitu berperan di sini. Yang aku tahu, Abi yang kala itu sendirian merawat kedua orang tuanya membutuhkan pendamping hidup. Ya, agar bisa saling support. Terlebih di keluarga Abi belum ada yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan, atau lebih dikenal dengan singkatan “nakes”.
Karena pindah kota, aku pun harus pindah sekolah. Bersama Umi, Abi, dan aunti yang tak lain adalah saudari-saudari perempuan ayah sambungku ini, kami mencari sekolah baru. Alhamdulillah, kami menemukan sekolah Islam swasta yang letaknya dekat dengan rumah Oma-Opa, yaitu SDIT Ar-Rahman. Tadinya mau di SDIT Citraz az-Zahra, sekolah bergengsi tempat salah seorang saudari Abi mengajar. Qadarallah, karena satu dan lain hal, impian itu harus terkubur.
Aku kemudian didaftarkan di sekolah tersebut dan mulai menyiapkan semua perlengkapan sekolah. Dibantu Umi-Abi, aku menyiapkan tas, buku, alat tulis, dan lain-lain. Tes masuk pun dilakukan, aku ditemani kedua orangtuaku menjalaninya. Alhamdulillah lulus, dan diminta langsung mengikuti kegiatan belajar-mengajar (KBM) pada Senin depan. Keesokan harinya, di hari Senin, aku bangun pagi-pagi dan bersiap-siap agar tidak terlambat. Umi dan Abi mengantarku ke sekolah dengan Ergi, mobil keluarga kami. Sesampainya di sana, aku berpamitan kepada Umi-Abi, lalu masuk ke lingkungan sekolah yang masih asing, tetapi penuh harapan baru.
Aku disambut oleh guru baruku yang bernama Bu Maya, yang kemudian mengantarku ke kelas. Di dalam kelas, aku diperkenalkan kepada teman-teman baru. Awalnya aku merasa gugup, tetapi mereka sangat ramah dan menyambutku dengan hangat. Aku pun mulai akrab dengan dua teman dekatku, yaitu Jasmine dan Maya. Kebetulan nama temanku yang terakhir sama dengan nama guruku. Kami selalu bersama—ke kantin, olahraga, salat, bahkan saat istirahat. Dengan izin Allah, kami lekas akrab walau ada jarak selisih 3 tahun masa pertemanan. Aku baru masuk SDIT Ar-Rahman di kelas III, sedangkan kedua temanku ini sudah berada di situ sejak kelas I.
Aku juga mulai mengikuti kegiatan tambahan di sekolah. Dari sekian banyak ekstrakurikuler, aku paling tertarik dengan jurnalistik. Suatu hari, kakak pembina jurnalistik mengadakan lomba menulis cerpen antarkelas. Aku ikut berpartisipasi dan alhamdulillah, aku menjadi juara. Sebagai penghargaan dari pihak SDIT Ar-Rahman atas partisipasi kami di lomba ini, aku menerima bingkisan kecil dari kakak pembina. Momen itu membuatku semakin semangat dalam belajar dan berkarya.
Selain kegiatan ekstrakurikuler, di SDIT Ar-Rahman aku juga merasakan suasana Islami yang kuat. Misalnya berbentuk kegiatan hafalan Al-Qur'an, salat Dhuha bersama, dan salat Zuhur berjamaah. Guru-guru di sini sangat perhatian dan sabar dalam menghadapi tingkah laku kami sebagai murid mereka. Sopan-santun begitu tampak, sebab memang sekolah ini termasuk sekolah kalangan menengah ke atas. Aku sangat bersyukur karena Umi dan Abi telah mendaftarkanku di sekolah ini.
Namun, keseharianku tidak selalu mudah. Umi bekerja di rumah sakit ternama, dan Abi bekerja sebagai editor. Jadi, aku jarang bertemu mereka pada siang atau sore hari. Biasanya, aku pulang bersama kakek atau kakak sepupuku. Aku hanya bisa bertemu Umi dan Abi sebentar di pagi hari sebelum berangkat sekolah, dan pada malam hari jika mereka tidak terlalu lelah. Meskipun begitu, aku tetap merasa disayangi dan diperhatikan.
Waktu terus berjalan. Saat naik ke kelas IV, Bu Maya tidak lagi mengajar kami. Undur diri dari jabatan wali kelas karena alasan kesehatan. Sebagai gantinya, kami belajar bersama Bu Bilqis, guru baru yang juga sangat baik. Sebelum pergi, Bu Maya berpamitan kepada kami. Aku merasa begitu sedih atas kehilangan wali kelas yang cantik lagi baik hati tersebut, tetapi juga harus tetap semangat menyambut guru baru.
Menjelang akhir kenaikan kelas, setelah ujian selesai, Bu Bilqis memperlihatkan video kenangan kami selama berada di kelas IV Al-Jabbar. Saat menontonnya, perasaan haru dan sedih bercampur menjadi satu. Kami tahu bahwa sebentar lagi kami akan berpisah kelas, dan Bu Bilqis juga tidak akan mengajar kami lagi. Sepertinya di SD-SD Islam seperti ini, setiap jenjang diisi oleh wali kelas baru. Maka aku pun beradaptasi di kelas V, mendapat wali kelas yang berbeda namun tetap bisa dijadikan sandaran kami.
Meski banyak perpisahan, aku sangat bersyukur atas pengalaman dan kenangan manis di SDIT Ar-Rahman. Aku bertemu dengan teman-teman yang salih dan salihah, guru-guru yang perhatian, serta suasana sekolah yang mendukungku untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Alhamdulillahil-ladzi tatimmush-shalihat. Segala puji bagi Allah yang dengan kehendak-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
SD 01 LARANGAN SELATAN
Aku bersekolah di SDIT Ar-Rahman hingga lulus kelas V. Namun, karena harus ikut kedua orang tuaku pindah ke daerah Larangan, Tangerang, aku pun terpaksa pindah sekolah. Sebelum pindah, aku sempat berfoto bersama teman-teman dan guruku di kelas lima. Hari itu bertepatan dengan Hari Guru, dan kami merayakannya bersama. Sayangnya, saat itu aku belum sempat benar-benar berpamitan kepada teman-temanku. Kami hanya sempat berfoto bersama dan menikmati perayaan sederhana di kelas.
Keesokan harinya, aku ikut kedua orang tuaku mengurus berkas-berkas pindahan dari SDIT Ar-Rahman ke sekolah baruku, yaitu SD Negeri 01 Larangan. Sebenarnya, aku tidak ingin pindah sekolah karena sudah merasa nyaman di sekolah lama dan memiliki banyak teman. Namun, aku harus mengikuti kedua orang tuaku. Sebagai bentuk baktiku kepada mereka yang sudah susah payah membesarkan dan membiayai sekolahku. Di samping ada kondisi khusus, terkait kesehatan mentalku yang perlu disembuhkan. Tekanan sekolah swasta kelas menengah sedikit-banyak membebani jiwaku.
Setelah semua urusan administrasi selesai, aku didaftarkan di SDN 01 Larangan oleh Abi dan Umi. Aku pun mulai mempersiapkan perlengkapan sekolah seperti buku, alat tulis, dan seragam. Esok harinya, aku mulai masuk sekolah dan bertemu dengan guru serta teman-teman baru. Awalnya, aku ditempatkan di kelas 6B, tetapi kemudian dipindahkan ke kelas 6A. Aku merasa kurang cocok di kelas baru itu, lalu meminta untuk dipindahkan kembali ke kelas 6B. Permintaanku akhirnya disetujui. Dengan bantuan Umi, yang datang langsung dan menjelaskan kondisi pribadiku.
Setelah kembali ke kelas 6B, aku mulai berkenalan dengan teman-teman di sana. Mereka menyambutku dengan ramah, menyapa, mengajak berbicara, bahkan ada yang meminta nomor handphone. Aku pun mulai merasa nyaman. Di kelas ini, aku akrab dengan dua teman yang biasa kupanggil Nina dan Dina. Kami sering berangkat dan pulang sekolah bersama. Karena aku tidak diantar jemput, kami biasa berjalan kaki bersama. Hanya berangkat bersama Abi, diantar dengan motornya. Saat ada kegiatan sekolah atau ingin ke kantin, mereka juga selalu mengajakku.
Suatu siang di rumah, tiba-tiba ada beberapa anak memanggilku dan mengajakku bermain. Mereka adalah Talitha, Ain, Dina, dan Rachel. Aku pun ikut bermain bersama mereka. Walaupun sekolah negeri terasa berbeda dari sekolah swasta, aku tetap menjalani semuanya dengan baik hingga akhirnya lulus. Di SD negeri ini, ada satu hal yang berbeda: kami masih masuk sekolah hingga hari Sabtu. Sedangkan di sekolah swasta sebelumnya, aku libur pada hari Sabtu. Meski begitu, aku tetap bersyukur karena bisa bertemu dengan teman-teman baru dan merasakan pengalaman yang berbeda.
MTS AL-IKHWANIYAH
Setelah aku menyelesaikan pendidikan di SD dan lulus kelas 6, Alhamdulillah aku bisa mendaftar di sekolah swasta yang berada di daerah Ceger, Pondok Aren. Sekolah ini masih berada di sekitar daerah Larangan. Pada masa itu, aku juga baru memiliki seorang adik. Aku melanjutkan pendidikan di MTs Al-Ikhwaniyah, yang sekolahnya berada satu lingkungan dengan pondok pesantren. Di sana, aku kembali berkenalan dengan teman-teman baru. Beberapa di antaranya adalah Rara, Kayla, Kaysha, Keisya, Nayla, Zaskia, Yunda, Bilah, Annisa Umar, Annisa Fitri, Zahra, Salwa, Tyara, Arika, dan masih banyak lagi. Kami makan, bermain, ngobrol, dan belajar bersama setiap hari.
Kami sekelas sejak kelas VII sampai kelas VIII. Meski guru-gurunya berganti, suasana belajar tetap menyenangkan. Di MTs Al-Ikhwaniyah ini, aku juga berkenalan dengan teman-teman dari pondok. Mereka sangat baik dan sopan, begitu juga dengan para guru yang ramah dan perhatian. Saat itu, kelas kami belum mengalami rolling, pergantian tempat duduk, jadi aku cukup dekat dengan teman-teman sekelasku selama dua tahun tersebut.
Meskipun aku sudah duduk di bangku MTs, banyak kenangan di masa SD yang masih aku ingat. Namun, beberapa temanku di MTs akhirnya ada yang pindah sekolah. Salah satunya adalah Bilah, teman yang sering pulang bareng dan bermain bersamaku. Sebelum ia pindah, kami sempat berfoto bersama dan memberikan kenang-kenangan sebagai tanda perpisahan.
Memasuki kelas IX, menjelang kelulusan, sekolah kami merencanakan kegiatan perpisahan ke Kawah Putih, Bandung. Rencana ini akhirnya terlaksana, dan aku sangat menantikannya. Sebelum berangkat, aku berpamitan dan meminta izin kepada Umi dan Abi. Hari yang ditunggu pun tiba. Di dalam bus, aku duduk bersama dua temanku, Erni dan Rara. Aku duduk di tengah, menikmati perjalanan sambil makan camilan.
Setelah tiba di Bandung, kami beristirahat sebentar, menata barang-barang, lalu makan siang. Kami mengikuti berbagai kegiatan seru seperti bermain games, membuat video bersama, senam, dan tentu saja berfoto bersama. Meski senang, aku juga merasa sedih karena tahu bahwa momen kebersamaan ini akan segera berakhir. Namun, esok harinya kami masih memiliki acara wisuda. Momen formal terakhir bersama teman-teman tercinta
Pada hari wisuda, aku bersiap-siap bersama Umi berangkat ke sekolah. Setelah sampai di lokasi, aku berfoto wisuda terlebih dahulu. Tak lama kemudian, aku bertemu dengan temanku Rara dan ibunya. Kami pun berfoto bersama. Setelah itu, aku secara bergantian berfoto dengan Umi dan para wisudawan/i. Suasana di tempat wisuda sangat ramai, dipenuhi oleh guru, teman-teman, dan para orang tua.
Saat acara dimulai, guruku membacakan sebuah surat yang menyentuh hati—surat yang ditujukan untuk orang tua, khususnya ayah dan ibu. Banyak yang menangis, termasuk Umi. Aku pun ikut merasa sedih mendengarnya. Setelah surat dibacakan, acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah pilihan siswa-siswi MTs Al-Ikhwaniyah. Kemudian, ada penampilan tari saman dari adik-adik kelas VIII. Setelah semua penampilan selesai, kami melakukan sesi foto bersama dengan wali kelas dan guru-guru. Aku berfoto bersama kelas 9.1 dan para guru MTs sebagai kenang-kenangan terakhir sebelum lulus. Setelah selesai, kelas-kelas lain juga mendapat giliran untuk foto.
Sebelum pulang dari acara wisuda, aku menyempatkan diri untuk memberikan sesuatu kepada Bu Ari dan Bu Saadah—dua guru yang pernah mengajariku. Setelah itu, aku dan Umi pulang. Abi tidak ikut karena harus bekerja. Adik-adik dijaga tetangga yang menjadi ibu asuh kami. Saat berjalan menuju parkiran SMK Al-Ikhwaniyah, aku tak sengaja bertemu dengan temanku dulu saat masih pertama kali masuk, yaitu Nayla. Ia bersama ibunya. Aku mengajaknya untuk berfoto sebentar sebagai kenang-kenangan dan sempat berbincang dengannya tentang rencana sekolah setelah lulus. Setelah itu, kami pun berpisah dan aku pulang bersama Umi.
SMA 63 JAKARTA
Setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang SMP, aku mulai bersiap untuk memasuki masa SMA. Pada saat yang bersamaan, adikku juga akan memulai sekolah di jenjang SD. Kami pun kembali pindah rumah mengikuti kedua orang tuaku, kali ini kembali ke Jakarta.
Awalnya, aku sempat mendaftar ke salah satu SMA negeri di daerah Larangan, namun qadarullah, aku tidak diterima. Aku tidak menyerah dan mencoba mendaftar ke beberapa sekolah lain di Jakarta, termasuk MAN Jakarta dan beberapa SMA negeri lainnya. Alhamdulillah, akhirnya aku diterima di SMAN 63 Jakarta, dan di MAN aku tidak lolos seleksi penerimaan murid baru.
Aku tetap bersyukur dan menerima keputusan itu dengan lapang dada. Apalagi, lokasi SMAN 63 cukup dekat dengan rumah baruku, sehingga aku tidak perlu menempuh perjalanan jauh. Setelah pengumuman diterima, kedua orang tuaku mulai mengurus berkas-berkas pendaftaran. Sementara aku sibuk menyiapkan perlengkapan sekolah seperti buku, alat tulis, dan seragam. Adikku juga mengalami hal yang serupa—tidak diterima di sekolah negeri dan akhirnya bersekolah di sekolah swasta.
Ketika hari pertama sekolah tiba, aku bangun pagi dan bersiap-siap dengan penuh semangat. Abi mengantarku ke sekolah. Itu adalah kali pertamaku masuk ke SMA negeri di Jakarta. Semuanya terasa asing—aku belum mengenal siapa pun dan bahkan belum tahu di kelas mana aku ditempatkan. Kami semua diarahkan untuk berbaris sesuai kelas, dan aku mengikuti instruksi tersebut. Di situ, aku mulai bertemu dengan teman-teman sekelas dan berkenalan dengan mereka, meski awalnya aku masih merasa malu. Ada Nabila, Sasya, Naila, dan masih banyak lagi. Dari dulu aku memang tidak dekat dengan lawan jenis. Lebih ke menjaga diri, hanya berinteraksi pada hal-hal yang terkait pelajaran.
Setelah kegiatan baris selesai, kami diarahkan menuju ruang AVI atau audio-video untuk mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Di sana, aku mulai akrab dengan beberapa teman dan rata-rata sudah saling berkenalan. Kegiatan tersebut juga didampingi oleh kakak OSIS dan para pembina.
Setelah masa pengenalan selesai, kami diarahkan menuju kelas masing-masing. Ternyata, kelasku berada di lantai bawah. Di sana aku bisa lebih dekat dan mengenal satu per satu teman-teman baruku. Saat itu, ada seorang teman yang sedang sakit, tapi aku tetap mengajaknya mengobrol dan bermain begitu ia mulai membaik. Wali kelasku, Bu Novita, sangat baik, perhatian, dan bijaksana. Ia tidak segan memberikan nasihat jika ada murid yang melakukan kesalahan.
Kelas X menjadi masa yang sangat menyenangkan dan penuh kenangan. Suasana kelas begitu hidup dan akrab. Saat ada teman atau ketua kelas yang berulang tahun, selalu ada ide kreatif dari teman-teman untuk merayakannya. Begitu juga ketika “Hari Guru” tiba—kami merencanakan kejutan yang menyenangkan untuk guru-guru.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika aku sakit dan tidak masuk sekolah selama beberapa hari karena kondisi mentalku lagi-lagi tak stabil. Tanpa disangka, teman-teman sekelasku bersama Bu Novita datang ke rumahku untuk menjenguk. Aku merasa sangat terharu dan senang karena mereka datang membawa doa dan semangat untukku. Belakangan baru aku tahu dari Umi, ternyata kunjungan ini berkah Abi yang ke sekolah pagi harinya.
Kenangan lainnya adalah saat acara tukar kado yang diadakan satu kelas. Acara ini merupakan ide dari Bu Novita sebagai bentuk saling memaafkan dan mempererat kebersamaan di antara kami. Setiap siswa diminta membawa satu kado dan menulis kartu ucapan. Keesokan harinya, kami saling menukar kado dan membacakan isi kartu ucapan satu per satu. Suasana saat itu sangat menyentuh dan menyenangkan. Sayang, di kelas 2 nanti aku harus pindah lagi. Kali ini ke Magelang, kembali ke pengasuh awalku: Mbah Putri dan Mbah Kakung. Aku niatkan “hijrah”-ku ini sebagai penjagaan terhadapt kedua Mbah tersebut. Juga terapi penyembuhan penyakit mentalku.
MA AL-IMAN MAGELANG
Banyak hal seru yang tidak akan pernah aku lupakan selama duduk di kelas 10 SMAN 63 Jakarta. Aku memiliki sedikit teman tetapi menyenangkan, dan guru-guru yang baik serta perhatian. Momen-momen berharga seperti acara kelas, kejutan ulang tahun, dan kegiatan Hari Guru akan selalu menjadi kenangan indah dalam hidupku. Juga teman disabilitasku, Nabila. Ke mana-mana kami selalu berdua, termasuk ketika acara Market Day yang dihadiri Abi dan adik bungsuku.
Saat liburan sekolah, aku dan keluargaku pulang kampung. Di sanalah muncul rencana bahwa aku akan pindah sekolah. Sayangnya, aku belum sempat berpamitan secara langsung dengan teman-teman sekelasku. Aku hanya mengirimkan pesan perpisahan lewat chat. Mendadak memang, namun ini kesempatan satu-satunya agar aku bisa sembuh dari sakit mentalku. Sekolah negeri, perundungan terjadi tanpa bisa dihindari. Umi-Abi ingin menyelamatkanku.
Keputusan pindah sekolah ini juga berkaitan dengan keinginan untuk menemani orang tua Umiku, yang dahulu merawatku dari bayi hingga usia 7 tahun. Aku memilih pindah ke MA Al-Iman Magelang, sementara kedua orang tuaku dan adikku tetap tinggal di Jakarta. Tempat kerja Abi di ibukota ini, dan Umiku lagi merintis usaha dagang untuk support finansial kami.
Dengan keputusan tadi, orang tuaku kembali mengurus berkas-berkas perpindahan sekolah. Adapun aku mulai menyiapkan perlengkapan seperti seragam, buku, alat tulis, dan kebutuhan sekolah lainnya. Setelah semuanya siap, aku berangkat dan untuk kesekian kalinya harus berpisah dengan Umi, Abi, dan keluargaku di Jakarta. Belajar untuk mandiri sepenuh hati. Sekaligus mencoba menghilangkan persepsi negatif “diasingkan” oleh orang tua sendiri. Jelas ini menjadi sebab traumatik, yang mengganggu kesehatan mentalku.
Di sekolah baruku, MA Al-Iman, aku memulai kehidupan baru sambil menemani Mbah Putri dan Mbah Kakung. Aku tinggal bersama adik Umi yang paling bontot, tanteku yang sudah kuanggap sebagai kakak. Hari-hariku diawali dengan kegiatan MATSAMA (Masa Taaruf Siswa Madrasah), yaitu kegiatan orientasi bagi siswa baru. Dalam kegiatan ini, kami diperkenalkan dengan lingkungan sekolah, guru-guru, kakak OSIS, serta teman-teman baru.
Saat itu aku belum langsung mengenal teman-teman sekelas di kelas XI, karena lebih dulu berkenalan dengan adik-adik kelas. Salah satu yang pertama kukenal adalah Nadia, seorang siswa pindahan dari pondok pesantren. Kami menjadi dekat selama kegiatan MATSAMA. Aku juga mengenal beberapa adik kelas lainnya seperti Putri, Citra, Elsya, Salma, dan Dina. Sekolah ini seperti MTS Al-Ikhwaniyah, ada sisi gedung untuk pondoknya. Dan entah kenapa dari dulu aku lebih nyaman bergaul dengan teman-teman yang memilih mondok. Circle atau frekuensi pergaulannya lebih cocok. Jauh dari “pergaulan bebas” ala kota besar.
Setelah kegiatan MATSAMA selesai, kami diarahkan untuk salat berjemaah sebelum masuk ke kelas masing-masing. Aku mulai berkenalan dengan wali kelas dan beberapa teman di kelas XI. Awalnya, aku masih merasa asing, namun kemudian dua teman, Vina dan Erina, lebih dulu menyapaku dan mengajakku berkenalan. Kami pun mulai akrab dan sering tadarus bersama. Dalam keseharian pulang-pergi ke sekolah, aku diantar Mbah Kakung di pagi hari. Sedangkan pulangnya, kadang diantar dan kadang naik ojek online. Sejak pindah ke sini, aku jadi berani memakai aplikasi penyedia layanan transportasi daring. Kemajuan pesat, kata Abi.
Seiring waktu, aku mulai mengenal lebih banyak teman di kelas XI seperti Shinta, Dhea, Salwa, Ana, Fira, Ica, Danisa, serta teman-teman lainnya seperti Farida, Aliska, Intan, Elisa, Salsa, dan Dian. Kami semua berada di kelas XI IPA saat itu. Namun, tidak lama kemudian, sekolah mengumumkan bahwa kelas XI akan dibagi menjadi dua jurusan, yaitu IPA dan IPS. Saat itu, kami dikumpulkan di aula dan diberikan selembar kertas untuk memilih jurusan yang diinginkan serta rencana jurusan kuliah ke depannya.
Setelah mempertimbangkan dengan matang, aku memilih jurusan IPS, karena aku lebih tertarik pada mata pelajaran-mata pelajaran di jurusan tersebut. Meskipun ada seorang teman yang mengatakan bahwa kami akan tetap sekelas jika aku memilih IPA, aku tetap memilih IPS sesuai dengan minat dan kemampuan belajarku. Setelah pembagian kelas berdasarkan jurusan, kami mendapat wali kelas baru dan mulai belajar sesuai jurusan masing-masing. Walaupun kelas kami sudah berbeda, aku masih sering bermain dan berkumpul dengan teman-teman dari jurusan IPA, terutama saat waktu istirahat atau salat berjemaah.
Demikian sekelumit kisah perjalanan hidupku terkait pendidikan dan pertemanan yang erat kaitannya. Akan aku jelaskan kelanjutannya di seri “Dear” berikutnya, insya Allah. Yang jelas aku sudah menyadari kalau berteman itu tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi kalau memandang dari sisi agama, syariat Islam, yang mengarahkan kita agar memilih teman yang saleh dan salihah saja. Yang tidak meracuni kita untuk berbuat maksiat. Mungkin ini pula yang membuatku sulit bergaul. Tapi tidak mengapa, ada Umi-Abi sebagai teman

Komentar
Posting Komentar