DEAR KALBUKU



Masa kecilku di kelas 1 dan 2 SD, ketika aku tinggal bersama nenek dan kakek, penuh suka dan duka. Kami tinggal di Kampung Tidar Warung, Magelang. Tidak hanya bertiga, tetapi ada sepupuku, tanteku, dan pamanku. Mereka setia menemaniku sejak bayi. Orang tuaku? Keduanya di Jakarta. Mencari nafkah untukku. Yang satu kukira sudah tiada, ayahku. Yang satu selalu ada walau terpisah jarak dan waktu, dialah ibuku.

Ibuku bekerja di RSCM, rumah sakit ternama. Sibuk. Benar-benar sibuk. Itu yang kurasakan.

Walau ia biasa pulang menjengukku sebulan sekali, bahkan kadang dua kali. Aku yang saat itu tak selalu ditemani sosok seorang ibu merasa bingung. Setiap kali ia pulang, rasa rindu hadir. Tapi di sela-sela itu rasa sedih ikut terasa, terbayang perpisahan yang pasti datang.

Kejadian yang berulang karena kondisi kami. Mungkin dari situ muncul reaksi membisu, tidak tahu harus berbuat apa dan berkata apa kepadanya. Itulah sosok wanita yang kucintai tapi tak selalu ada di sisi.

Seiring bertambahnya usiaku, rasa sakit akibat ditinggal bekerja sampai harus hidup berpisah kian besar. Hanya sesekali ibu mengantarku ke sekolah. Sesekali pula ia menjemputku. Lebih sering kakekku yang melakukannya untukku. Merasa kehilangan, lagi-lagi terasa menyakitkan. Terlebih saat ibuku hendak balik ke Jakarta di waktu jam sekolahku. Tidak ada yang memberitahu, demi menjaga perasaanku. Aku mulai mengerti, dari sikap yang tak biasa. Ibu lebih sering memelukku, juga mengajakku berfoto. Tampak matanya berbinar, dan tak jarang tampak tetes-tetes air darinya. Senyuman terlihat selalu dari wajah cantiknya, dan itu yang membuatku berpikir ia baik-baik saja. Ya, itulah di antara pertanda ia harus kembali mencari nafkah.

Walau begitu, aku tetap mencintai dan menyayangi ibuku. Saat itu aku hanya berdoa dan berharap ibu segera kembali ke kampung. Menjengukku lagi. Bermain denganku lagi. Jajan di Pasar Tidar bersama sepupuku.
Membawakanku mainan keren dari Jakarta.

Hal-hal indah, itulah yang selalu kuutamakan. Agar tak memikirkan perpisahan setelah perjumpaan. Berdoa agar kami bersatu, tak lagi dipisahkan jarak dan waktu. Dengan kakek dan nenek, ingin berkumpul semuanya. Bersama-sama di Magelang. Harapan yang akhirnya terwujud, tapi tidak seluruhnya sesuai inginku. Bahkan di luar nalarku yang masih belum bisa paham arti pernikahan. Ya, ibu berencana menikah lagi. Padahal aku saja belum tahu siapa ayah kandungku.
Awal kisahnya mulai dari ibu mengantarku ke sekolah, saat kembali menjengukku. Tidak seperti biasanya, ibu menemui wali kelas SDN 03 Rojowinangun tempatku menimba ilmu. Cukup lama ibu di sana, sementara aku sibuk belajar dan bergaul bersama teman-teman. Baru belakangan aku tahu, kalau niat ibu adalah pamit karena ingin mengajakku ke Jakarta. Ke kehidupan baru. Kehidupan bersama yang tak lagi berjarak. Bersatu dalam ikatan rumah tangga, dengan sosok calon ayah yang nyata ada. Bukan ayah kandungku yang selalu tampak dalam imajinasi. Lewat cerita ibu yang mengatakan ia sedang mencari banyak uang demi kebahagiaan kami nanti. Di masa depan. Seperti di dongeng. Tak logis memang, tapi saat itu aku masih percaya.

Jauh di lubuk hatiku, hanya ingin bersama ibu. Seperti teman-temanku yang lain. Setiap pulang sekolah tidak takut ia tak ada di rumah. Setiap berangkat sekolah ingin selalu diantar olehnya. Ingin di malam hari selalu tidur bersamanya. Mendengarkan ceritanya sebelum tidur. Melihatnya tertawa bersama kakek-nenek. Tanpa jeda waktu berpisah karena sesuatu. Intinya, tanpa kusadari, trauma kehilangan kian menjadi. Awalnya hanya menangis, lalu diam membisu, hingga marah tak mau menerima panggilan ibu. Karena pulang tanpa memberitahu. Demi menjaga perasaanku. Dan ternyata, menurut kakek dan nenek, termasuk perasaannya. Mana ada seorang ibu yang tega meninggalkan anak balitanya merantau jauh ke negeri seberang. Ini baru kutahu belakangan. Setelah aku pindah ke Jakarta bersama suami baru ibu.

Ayah baruku, ia laki-laki yang dipilih ibu karena agamanya. Kami bertemu pertama kali di Masjid Istiqlal. Saat liburan sekolahku. Saat itu ibu mengajak liburan ke Jakarta, seluruh keluarga inti diajak. Pamanku ikut. Kami menginap di Paseban, tempat kos ibu yang tak jauh dari tempat kerjanya: RSCM. Rencana bertemu calon suami esok hari, jadi kami masih ada waktu untuk beristirahat dari perjalanan kereta api. Juga jalan-jalan ke beberapa lokasi favorit di Ibukota. Kakek pergi ke Pasar Senen. Nenek diajak ke Pasar Kenari. Kami menyibukkan diri sampai bertemu dengan sang calon ibu. Aneh tapi nyata, akulah yang tahu sosoknya lebih dahulu dari kakek dan nenek. Saat terlihat laki-laki berjalan melewati kami, sambil tengak-tengok dengan wajah tegang. Ibu yang sejak tadi mencari pun kaget. Seperti pertanda takdir baik. Waktu perkenalan pun tiba. Ibu memperkenalkan laki-laki tadi, ke kakek-nenek, ke paman, lalu ke aku. Tampak ramah, dan cukup berwibawa. Di situlah ibu memutuskan, melihat sikap baiknya menerimaku, bahwa pernikahan bisa dilangsungkan. Semacam syarat, mengingat status ibuku yang bukan gadis lagi.
Singkat cerita ibu menikah lagi dengan sang calon. Resepsi sederhana dilangsungkan di Magelang, kampung kami. Ayah baruku datang membawa beberapa kerabatnya. Hanya berselang tiga hari, keduanya kembali ke Jakarta. Meninggalkan aku sendirian. Karena harus menjalani rutinitas, kesibukan masing-masing. Kami memang tidak langsung bersama, karena aku harus menyelesaikan sekolahku di kelas 3.

Tak lama ibu hamil, akhirnya keinginan punya adik tercapai. Saat itulah aku dijemput untuk tinggal bersama di Jakarta. Di rumah ayah baruku, bersama Oma dan Opa. Kemudian adik pertamaku lahir, laki-laki. Padahal aku inginnya perempuan. Sabar dan ikhlas, itu yang ibu sampaikan. Lalu lahir dua adikku lagi, semuanya laki-laki. Di sela-sela kelahiran mereka aku bersekolah di SDIT Ar-Rahman, lalu pindah ke SDN 01 Larangan Selatan. Terus melanjutkan jenjang SMP di Al-Ikhwaniyah. Dan kini di SMU 63. Seru sekali, bukan? Ya, kami pindah-pindah rumah. Ibuku bahkan keluar dari RSCM demi merawat adik-adik. Mengontrak rumah lagi di Jakarta, setelah Abi-ayah baruku-membeli rumah di Tangerang. Tujuan utamanya merawat orangtua, dan merintis usaha di Jakarta. Demi kehidupan yang lebih baik, masa depan kami anak-anak mereka.

Kini aku mengerti alasan ibu menikah lagi. Ia ingin merajut masa depan baru, setelah gagal menjalani rumah tangga bersama ayah kandungku. Memang dalam hati aku masih ingin bersama kakek-nenek juga. Tapi takdir berkata lain. Dan pastinya ini yang terbaik. Allah tahu itu. Kita manusia hanya diberi pilihan. Pasti ada hikmah dari setiap kejadian. Alhamdulillah ala kulli hal, segala puji bagi Allah atas segala yang terjadi. Aku bahagia tinggal bersama adik-adikku kami, juga bersama Umi dan Abi yang selalu membimbingku. Semoga kami selalu bersama dalam keluarga yang aman, damai, dan harmonis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DEAR SAHABATKU

DEAR UMIKU