DEAR UMIKU


 Assalamualaikum, Umi, apa kabarmu? Semoga Allah senantiasa memberi kita nikmat sehat, ya. Tentunya, setelah nikmat Islam dan iman. Sebelum ini aku curhat soal diri sendiri, lalu tentang keluarga kecil maupun besar kita, nah boleh donk kalau sekarang aku ingin menuangkan biografimu. Kisah hidupmu. Perjuanganmu. Keluh-kesahmu. Bahkan suami barumu, Abi, yang kini setia menemanimu dalam membesarkanku beserta tiga adik laki-lakiku. 


Umiku tersayang.... Jauh sebelum aku dilahirkan ke dunia, kabarnya engkau gigih mencari pendidikan terbaik. Selalu berusaha meraih prestasi akademik. Menjadi juara kelas, atau setidaknya urutan tiga besar. Sungguh hebat, luar biasa, sudah sukses sedemikian rupa. Dengan satu motivasi: membahagiakan kedua orang tua, Bapak-Ibuk yang kini tinggal bersamaku di Magelang. Aku ingin sepertimu. Ternyata tidak mudah, tidak segampang membalik talapak tangan. Atau mengedipkan mata. Walaupun aku sudah berusaha mati-matian. Tapi setiap orang memiliki keterbatasan, juga kekurangan, yang harus kuterima dengan lapang dada. Yakinlah, aku akan sukses lewat "jalanku sendiri". Demi membahagiakan engkau. Bismillah, aku hanya butuh doamu.


Umiku tercinta..... Engkau mempunyai empat saudara kandung. Allah takdirkan dirimu menjadi kakak tertua. Si sulung, seperti posisiku kini. Bahkan lebih berat, sebab hampir tidak ada jarak kelahiran. Berbeda dengan aku yang ada selisih 7 tahun dari anak laki-laki pertama Umi-Abi. Sebagai anak paling tua, otomatis engkau terjebak situasi harus segera mandiri. Agar bisa membantu kedua orangtua mengurus adik-adikmu. Tidak bisa tenang saat bermain, belajar, ataupun mengerjakan tugas sekolah. Setiap waktu mereka tergantung padamu, ingin ikut serta di momen-momen personalmu. Sungguh aku ingin menirumu, namun lagi-lagi tak mampu. Adaptasi dengan ayah sambung, Abi, membuatku cemburu berlebihan. Engkau jadi "pelampiasan"-ku, juga tiga adikku. Pastinya ini perlu waktu, maka kumohon doamu sebagai penawarnya.


Umiku terkasih.... Bapak-Ibuk yang sebenarnya kakek-nenekku dahulu begitu sibuk, sebagaimana curhatmu. Sampai- sampai engkau sengaja dititipkan ke sosok yang dikenal pandai ngemong: Mbah Saeno. Beliau suka merawat anak-anak yang ditinggal orang tuanya mencari nafkah keluarga. Maka, engkau punya dua orang tua. Dua rumah. Tinggal bolak-balik antara Tidar dan Turunan. Bersama adik terdekatmu, Tanteku yang kini punya dua anak cowok-cewek lucu, engkau menjalani kehidupan tak normal. Mirip denganku, sejak bertemu ayah kandungku. Sempat shock karena harus membagi waktu dan perhatian ke dua keluarga. Repotnya lagi, kulihat engkau masih memendam trauma masa lalu. Ini membuatku bimbang dalam mendekatinya, walau di-support Abi. Maafkan aku, bagaimanapun dia tetap garis nasabku. Umi, tetap doakan aku.


Umiku tercantik.... Di saat engkau sudah melalui wajib belajar 12 tahun, mulai tampak arah masa depan meraih impian. Selesai mengenyam bangku pendidikan atau masa persekolahan, kini engkau ingin menuju masa perkuliahaan. Dengan tekad kuat, engkau memilih UGM (Universitas Gadjah Mada) yang berada di Yogyakarta. Lantas engkau mencari infromasi tentang universitas tersebut, mulai dari di mana letaknya sampai jurusan apa saja yang menarik minat. Perjuangan sesungguhnya pun dimulai, belajar dan belajar lagi, malam jadi siang dan sebaliknya, hingga "hasil" tunduk pada "proses". Masya Allah, engkau lulus. Aku bisa membayangkan betapa senangnya. Tapi, spontan aku terharu begitu tahu ternyata engkau tak jadi mengambil "tiket kelulusan" itu demi orangtua. Manusiawi, ayah mana yang tega membiarkan putri kesayangannya berada jauh dari pandangan. Maklum, adik-adikmu terlalu dimanja sehingga tidak bisa. diandalkan oleh mereka. Rasa takut kehilangan, rasa itu bukan dusta. Mungkin seperti aku yang khawatir kehilangan kasih sayangmu semenjak hadirnya Abi, cemburu yang sejatinya tidak benar. Semoga "hijrah"-ku ke Magelang dapat memupus rasa itu, jangan pernah bosan untuk mendoakanku ya, Umi cantik.


Umiku terimut... Pasca "mengalah" untuk tidak kuliah di Yogyakarta, engkau tetap semangat menatap masa depan. Meninggalkan universitas impian satu-satunya, kota pelajar yang didamba seluruh lulusan sekolah menengah di seluruh nusantara. Rasa kecewa dan sedih tak membuat engkau menyerah, harus menerima takdir ilahi walau tak berpihak pada diri sendiri. Tanpa basa-basi dan larut dalam kesedihan, engkau gercep mencari alternatif universitas. Yang dekat, sesuai "syarat" orangtua. Pencarian dilakukan, sendirian, dengan sedikit bantuan informasi dari teman, hingga ketemu Universitas Muhammadiyah. Bapak-Ibuk langsung setuju, meski harus menjual properti di Kebumen sebagai kompensasi biaya kuliah. Tak seberapa demi anak tercinta, agar tetap ada di jangkauan mata. Jurusan kesehatan pun dipilih, agak berbeda dengan jurusan pilihanmu saat mendaftar di UGM. Insya Allah ini jauh lebih mulia, berharap bisa berjasa demi kemanusiaan: membantu penyembuhan orang sakit. Luar biasa, apa yang engkau lalui pastinya lebih berat daripada situasiku ketika harus menerima kehadiran adik-adikku. Ridha untuk berbagi kasih sayang jelas beda dengan ridha memupus cita-cita. Doakan aku agar cepat ikhlas menerima takdirku, Umi.


Umiku terbaik..... Masa perkuliahan adalah masa pertaruhan. Bukan judi maksudnya, namun lebih ke kesempatan menjadi panutan. Tidak hanya di hadapan teman, tapi untuk keluarga tercinta. Engkau berpikir harus sukses, mendapat IP (indeks prestasi) maksimal: cumloud di Universitas Muhammadiyyah. Bukan demi gengsi, apalagi buat narsis: sombong-sombongan. Terlebih di tahun terakhir masa kuliahmu, ujian ekonomi datang menimpa. Wirausaha orangtua terdampak signifikan, usaha rental mobil Bapak dikhianati teman, jualan Ibuk di terminal digusur paksa. Qadarallah wa ma sya-a fa'al. Engkau merasa tak berdaya, hanya bisa terus belajar mencapai target meraih prestasi akademik terbaik. Harapannya, mendapat penempatan di rumah sakit Muhammadiyah, direkomendasi dari kampus tercinta. Antara biaya dan cita-cita, sampai datang "titik cerah". Sesosok pria datang mendekat, menyatakan minat untuk mengayuh bahtera rumah tangga bersama. Dia pintar mengambil hati Ibuk, yang membuat engkau tak kuasa menerima lamarannya. Ayah kandungku, memang dia seperti itu, bertipe playboy. Aku tak tahu persis alasan pribadi engkau, kecuali melihat figur keluarganya yang masya Allah soleh. Aku ingin mencari tahu lebih, tapi rasa malu ini masih mendominasi. Ingin sekali mengerti situasimu, agar aku tak turut menjadi pihak yang membencinya. Selalu kuingat kata Abi, bahwa orang dewasa itu kadang harus memutuskan sesuatu yang tidak disukainya karena terjebak situasi. Kembali aku butuh doamu, Umi, berharap hati ini kuat menghadapi karakter Ayah dan membuatnya bertanggung jawab penuh atas masa depanku. Tolong jangan trauma lagi ya, aku tahu betapa tak mudah untuk memaafkan. dan mengikhlaskan segala yang telah terjadi.


Umiku terlugu... Masa persekolahan dan perkuliahan engkau lalui dengan baik. Alhamdulillahil-ladzi tatimmush shalihat, aku turut bahagia mendengar kisahmu sampai detik itu. Aku pikir kehidupanmu selanjutnya pun akan baik-baik saja. Namun manusia hanya berencana, Allah yang menentukan ending-nya. Pernikahanmu diadakan sederhana, dengan adat Jawa. Sesuai background keluarga Ayahku yang sederhana. Tak ada tuntutan bermewah-mewah, sesuai kemampuan sang pangeran. Jiwa muslimahmu tampak jelas, didikan kampus Muhammadiyyah yang islami tak diragukan lagi. Engkau pun tak curiga saat setelah menikah tak langsung di-boyong ke Jakarta, tempat Ayahku mencari nafkah. Husnuzhan yang engkau tanamkan dalam dada, ini yang sering Abi-ku bilang, berbaik sangka. Qadarallah, sosok asli Ayah terungkap, yang benar-benar menyayat hatimu. Kepercayaan dan kesetiaan yang diharapkan dalam rumah tangga, keduanya musnah secara bertahap dan dalam waktu singkat. Walau sudah bertahan sekuat tenaga, derni aku si buah hati tercinta dan nama baik keluarga, engkau pun dihadapkan pada pilihan sulit. Seperti kata Abi, harus memutuskan dalam situasi yang tak bersahabat. Menjadi single parent di usia 25 tahun, dengan kondisi Ayah yang tak bertanggung jawab akibat marah karena merasa harga dirinya dihinakan akibat diceraikan. Engkau berjuang lagi, dan kali ini lebih sulit, sebab ada aku yang harus diberi gizi supaya tumbuh sehat dan normal. Ya Allah, sayangilah Umiku, dan berilah hidayah pada Ayahku agar bersikap seperti Abi-ku yang menyayangi kami tanpa kenal jenuh dan lelah hati.


Umiku tersabar.... Abi pernah bilang, tidak mungkin hanya satu pihak yang salah dalam perceraian rumah tangga, sebab para syaitan berkerumun memperebutkan "mahkota" hadiah Iblis bila sukses padanya. Aku tidak begitu paham, tapi aku yakin Umi tidak banyak salahnya. Kenapa aku beranggapan demikian? Karena Abi, betapa kulihat dia begitu sabar menghadapi engkau. Dalam kegundahanmu ketika hamil dan bekerja di RSCM, juga dalam merawat sakitku yang entah kapan bisa sembuh. Jauh berbeda dengan Ayah, yang depresi menghadapi karaktermu yang dianggap "wong deso", tak sesuai ekspektasi berahinya. Hanya karena engkau tidak mau berpenampilan seksi di luar rumah, Ayah nekat mendua bahkan menikah lagi. Puncak malapetaka berasal dari situ, sebagai akumulasi beragam prahara lainnya. Poligami memang boleh dalam syariat Islam, engkau yang kuliah di Muhammadiyah pun sadar, hanya saja "cara"-nya yang tidak benar. Sekali lagi aku tak mau ambil pusing soal ini, walau tetap terbawa rasa kecewa yang engkau pendam hingga kini. Jelas aku ikut benci karena ditelantarkan sejak bayi. Karena Ayah tak mau memilih. salah satu istri, engkau pun mengalah tinggal di Magelang. Seperti kondisiku sekarang, mungkin saja,karena itulah solusi terbaik-insya Allah. Engkau melahirkanku di Jawa demi Ayah bisa bekerja leluasa, lalu ke Jakarta dengan kondisi ekonomi kalian yang sempurna, tapi ujian keimanan datang lagi hingga menghancurkan masa depan bersama. Kembali ke Magelang, berjuang sendirian menafkahiku, bekerja di Temanggung dan di-sombi berdagang. Sungguh sabar dirimu, Umi, semoga Allah membalas segala letih raga dan lelah jiwamu selama ini. Karena itu pula aku tidak ingin seperti Ayah, yang mudah menyerah memintamu kembali merajut impian awal berumah tangga. Aku yakin hidayah akan datang, dan berharap engkau terbebas dari trauma dan fokus terhadap keluarga baru kita sekarang, bersama Abi dan adik-adik menggapai keluarga sakinah-mawaddah-warahmah.


Umiku tersayang... Berbagai rintangan dan ujian kehidupan bisa engkau lalui, dengan derai air mata tiada henti. Sampai puncaknya engkau memutuskan "pisah" dengan Ayah kandungku. Walau meminta cerai bagi wanita itu tabu, aku yakin itu adalah jalan terbaik yang Allah berikan kepadamu. Cinta itu buta, memang benar adanya. Dengan istri barunya, Ayah tergila-gila, sampai lupa bagaimana harus bersikap adil dalam poligami. Manusiawi, tapi tetap tidak bisa ditoleransi. Segala pencapaian engkau dari sisi duniawi bersama Ayah, mobil dan motor serta harta melimpah, tak berarti apa pun saat harus tinggal sendiri. Berbagi porsi waktu dan harta, tak terbayangkan bagiku sakitnya. Apa pun kondisi yang terjadi, balik lagi takdir ilahi sebagai penentu nasib dua insan yang bermimpi bisa melalui hari-hari tua bersama dengan anak-anak. Perlu waktu untuk "move-on", seperti kata Abi, jadikan shalat dan sabar sebagai penolong kita di saat sulit. Pasca resmi bercerai, engkau kembali "bangkit" menatap masa depan demi diriku. Mencari pekerjaan di kampung halaman tak juga kesampaian, sampai harus melamar ke RSCM di Jakarta. Takdir lagi, Bapak berperan besar kali ini, setelah sebelumnya kecewa dan menganggap kami "beban". Restu orangtua membuat engkau diterima di rumah sakit rujukan seluruh Indonesia itu, namun aku yang harus sendiri lagi. Mau tidak mau LDR-an lagi, siklus kehidupan jauh-jauhan yang membuatku trauma hingga kini. Hari demi hari berganti, engkau pun bisa membuktikan bahwa "roda di atas" itu niscaya adanya. Kami kembali sejahtera berkat profesi engkau sebagai suster pilihan di RSCM Kencana, seperti saat usaha Bapak-Ibuk berjaya. Hasil jerih payah diraih sudah, sementara aku terus bertanya-tanya siapa ayah kandungku. Jiwa besar tetap engkau tanamkan, berharap ada "sosok pengganti" yang bisa jadi teladan. Andai saat itu aku bisa memahami kondisi engkau, pastinya kudoakan selalu demi kebahagiaanmu. Maafkan aku, Umi, karena tak kuasa menjalani takdir yang sejatinya begitu berat engkau jalani. Namun aku janji, mulai detik ini aku akan berubah menjadi anak yang salehah!


Umiku tercinta.... Menikah di usia 22 tahun, lalu menjalani rumah tangga yang tak harmonis selama 3 tahun, dan menjadi single-parent selama 5 tahun. Itulah engkau, Umiku, ibu yang bekerja siang-malam di RSCM Kencana demi menghidupiku dan orangtuamu. Juga mengatasi problem keluargamu yang diakibatkan adik laki- laki yang tidak lain adalah pamanku, akibat "lingkaran setan" perjudian. Allahu Musta'an, andai tidak Allah tolong engkau, aku tak tahu bagaimana kondisi jiwamu. Dihantam dengan ujian psikologis yang seakan tak ada habis, senyum tipis tetap tampak di wajah cantikmu. Masya Allah, tabarakallah. Ibuk atau nenekku di Magelang tak henti menyemangatimu untuk mencari pengganti Ayah. Beberapa sesi ta'aruf atau perkenalan dijalani, dengan satu kondisi: si pria harus menerima kehadiranku. Sampai bertemu dengan Abi, ayah sambung yang kini men-support keseharian kami. Tentang dirinya akan ada sesi "curhat"-ku sendiri, cukup diketahui kalau Abi adalah sosok yang menurut Umi terlalu baik. Ya, sampai harus mengorbankan perasaan dengan mempertemukan kami dengan Ayah kandungku. Walau tidak disengaja, tetap saja Abi begitu tegar menghadapi takdir ini. Harus bertemu dengan "cinta suci" Umi, yang tentu menekan mentalnya. Tapi demi menjalankan syariat agama, Abi perlu menyambung nasabku dengan Ayah yang kini sudah berkeluarga lagi. Dari situ aku tahu, pasca berpisah dengan engkau, Ayah menderita luar biasa. Poligami-nya hancur berantakan, bahkan sampai dipenjara. Dalam proses pendekatan itu, dengan Bunda istrinya dan Iden-Cecil anak mereka, kulihat engkau berupaya kooperatif. Mengikuti kecenderungan suami barumu, Abi, walau tampak traumatik. Ujian keimanan kembali engkau lalui, namun kini aku yakin lebih mudah, sebab ada Abi di sisi. Suka-duka PDKT kami lalui, dengan baper yang tidak mungkin dihindari, hingga Abi memutuskan undur diri. Demi engkau, karena dilihatnya belum bisa ikhlas jika harus terus bertatap muka. Walaupun demikian, Abi tetap membantuku menjadi "perantara" dalam komunikasi dengan Ayah. Aku pun cenderung untuk tidak memutuskan hubungan seperti saranmu, karena kuyakin hidayah akan membawa mantan suamimu kembali peduli kepada anak perempuan hasil pernikahan pertamanya. Tidak apa-apa 'kan, Umi?


Umiku terkasih.... Kini aku berada di Magelang lagi. Bedanya, ini atas keputusanku sendiri. Pilihan pribadiku, tanpa paksaan siapa pun, apalagi Abi. Selama tinggal lagi bersama Bapak-Ibuk, atau lebih tepatnya kakek- nenekku, aku mulai paham mengapa dulu meninggalkanku sendiri. Jawabannya karena "terjebak situasi". Terpaksa memilih sesuatu yang sebenarnya tidak engkau sukai, apalagi inginkan. Satu hal yang kusadari, mentalku terganggu akibat belum cukup usia alam menghadapi lika-liku rumah tangga orangtua. Mungkin itu yang membuatku didiagnosis terkena penyakit psikis, sampai harus berobat ke psikolog. Engkau pernah bilang kalau aku mengidap HDR, singkatan "harga diri rendah", walau aku sendiri tak memahaminya. Pindah-pindah sekolah akibat bullying atau karena kesulitan ekonomi, ini pun mempengaruhi kesehatan mentalku. Sejak Abi membawaku ke Jakarta di usia 7 tahun, setelah 6 bulan sebelumnya memboyongmu pasca pernikahan sederhana di rumah Bapak-Ibuk, aku praktis bingung. 

Bingung dengan keluarga baruku, keluarga Abi yang memiliki 6 saudari perempuan, belum lagi kelahiran 3 adikku yang berdempetan waktunya. Aku merasa kehilangan engkau, harus kuakui itu. Karenanya aku terus caper di hadapanmu. Mencari perhatian di saat engkau dalam kondisi dilematis: antara mengurus suami atau memberiku perhatian penuh seperti dulu, antara memilih tetap kerja di RSCM Kencana atau mengurus anak karena tak mendapatkan orang yang bisa mormong, antara memilih tetap tinggal di Jakarta atau pindah ke Tangerang, juga di situasi sulit lainnya. Maafkan aku yang diliputi "cemburu" sehingga tidak mengerti kondisi kalian, orangtua yang begitu menyayangiku. Akan kumanfaatkan dua tahun masa sekolah menengah atas di kota kelahiranmu ini dengan penuh semangat belajar dan suka cita bergaul bersama teman, supaya kita semua bahagia walau terpisah jarak. Tak masalah, aku sudah besar, kalau kangen tinggal telepon. Toh, sejauh ini setiap hari kita tetap intens berkomunikasi. Juga saling memberi motivasi. Inilah takdir ilahi yang harus kia jalani, dengan ikhlas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DEAR KALBUKU

DEAR SAHABATKU