DEAR KELUARGAKU


 

Ini adalah kisahku yang lain. Bukan ketika aku masih SD dan mengalami dilema memiliki "keluarga baru". Tepatnya, sosok ayah yang sekian lama kurindukan benar-benar dihadirkan. Oleh Sang Pencipta, satu-satunya tempatku mengadu. Sejak itu, Alhamdulillah, hatiku lebih tenang. Kupikir rasa itu abadi, lekang, terus ada. Polosnya diriku, belum tahu hakikat hidup yang sesungguhnya. Realitas kehidupan yang tak selamanya berpihak pada kebahagiaan. Aku pun menyadarinya, harapan dan kenyataan yang diinginkan manusia berbeda-beda. Tidak selalu sama, perlu pembelajaran khusus. Lewat pengalaman personal, pribadi sifatnya.



Pastinya kita tak tahu-menahu ke mana arah takdir ilahi. Maka wajib ridha, utamanya itu. Tentu setelah ikhtiar dilakukan. Dilema yang terjadi pada keluargaku. Di kisahku kali ini. Dari sudut pandang seorang remaja yang "terpaksa" merantau mengikuti orang tua tercinta. Libur Lebaran Akhir semester di MTS Al-Ikhwaniyyah, sekolahku. Tangerang kota daerahnya, domisiliku setelah pindah dari Jakarta. Di sini aku tinggal bersama keluarga inti: Umi, Abi, dan tiga adik laki-laki. Agenda sekolah pun memasuki hari tenang, class-meet, setelah melalui masa ujian. Dan tiba-tiba guruku menginfokan soal Lebaran, yang sebentar lagi tiba. Info tersebut membuatku sontak merenung.


Memori masa lalu kembali, tatkala masih menetap di Magelang. Bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri yang kupanggil "Bapak" dan "Ibu", mengingat kesibukan ibuku yang bekerja di Jakarta. Di sebuah rumah sakit ternama: RSCM Kencana. Ingin berlibur, itu tebersit di benakku. Setelah mengucap salam perpisahan dengan teman-teman di sekolah, aku bergegas pulang ke
rumah. Kali ini Umi tidak menjemput, harus pulang sendiri berjalan kaki sejauh 1 km. Saking senangnya, langkah kaki ini seperti berlari. Cepat sekali. Lelah pun tak dirasa. Sampai di rumah, kulihat 3 adikku lagi bermain. Benar saja, Umi belum kembali dari rumah temannya. Sambil menunggu, aku duduk menatap surat edaran Libur Lebaran. Surat ini diberikan kepada
kami sebelum bel pulang sekolah berdering. Aku lihat tanggalnya, lumayan lama: 10 hari totalnya.
Maka begitu Umi datang, langsung kuberi tahu kabar yang tadi disampaikan ibu-bapak guru. Seperti biasa, Umi tersenyum. Ternyata ibuku itu tak bisa mengiyakan begitu saja, "Tunggu Abi ya, Kak, nanti diobrolin dulu." Jawaban Mengecewakan
Siang menjelang sore hari itu, aku
membayangkan bagaimana rasanya berkumpul lagi dengan keluarga Magelang. Bersama keluarga intiku, menaiki "Ergi", mobil keluarga
Abi yang setia menemani kami jalan-jalan maupun liburan selama ini. Setidaknya itu harapanku, seperti kebiasaan kami pulang kampung 2x setahun. Tapi itu belum pasti,
tergantung Abi, sang kepala keluarga. Ayah sambungku nan baik hati, sejak usiaku 7 tahun. Shalat Zhuhur, main bersama adik-adik, nonton TV, dan shalat Ashar kulakukan dengan giat. Doa kupanjangkan, sengaja agar Abi bisa mengabulkan keinginanku liburan di Magelang. Biasanya beliau baru pulang selepas Magrib, menjelang azan Isya. Setia menanti, sambil bantu
Umi beberes rumah. Qur'an kubaca sesudah shalat Magrib, pertanda malam tiba. Ayahku yang sedari tadi kami tunggu akhirnya pulang. Masih mengenakan mukena, aku berlari
menghampiri Abi. Tapi langkahku terhenti, melihat ekspresi wajah Umi yang menandakan kondisi yang kurang pas. Tangannya menghentikan niatku menyampaikan info libur lebaran. Kesal pastinya, cuma bagaimanapun aku
harus mengikuti arahan orang tua. Hanya bisa memperhatikan Abi yang duduk rehat sejenak sambil ngobrol dengan adik-adikku. Umi sendiri
sedang menyiapkan baju mandi. Ritual pulang kerja perlu diselesaikan dahulu. Sabar atasnya. Setelah Abi selesai mandi, dan kami duduk bersama sambil ngemil, aku pun menghela napas
dan memberanikan diri memulai pembicaraan. "Abi, ini ada edaran libur lebaran. Kita ke Magelang lagi khan?" tanyaku. Namun Umi cepat mengambil edaran itu sebelum Abi menengok, sehingga tidak begitu perhatian dengan apa yang kuucapkan. Tampaknya momen kurang pas, dan Umi yang lebih mengerti. Sebagai remaja, emosiku sulit direda. Keinginan liburan sulit dibendung lagi. Maka aku pun bilang
setengah teriak ke kedua orangtuaku, "Pokoknya liburan lebaran tahun ini ke Magelang! Yang lama, bukan seperti tahun lalu yang cuma seminggu!" Spontan muka ayahku berubah, yang
tadinya mulai mengendur pasca capai bekerja, kini menegang dan tampak marah. Umi mencoba menjelaskan, tapi Abi terlanjur berucap, "Tahun ini kemungkinan besar kita lebaran di Jakarta, sikonnya gak memungkinkan. Kamu jangan maksa! Umi, tolong jelasin ke Lia!" Jleger, petir seakan menyambar. Air mata ini pun menetes.


Solusi Umi

Aku malas bangun pagi esoknya. BT banget karena Abi tidak setuju kami pulang kampung. Tapi bagaimanapun aku harus tetap sekolah. Mana sudah ngomong rencana liburan ini ke teman-teman, duh semoga mereka tidak menanyakan kepastiannya nanti. Seperti biasa, yang mengantarku ke sekolah adalah Abi. Ayahku ini memang suka marah, tapi dia tidak pernah
memendam rasa tidak suka. Wajahnya biasa saja, datar, seolah tak terjadi apa-apa semalam. Seakan tidak bersalah sudah memupus impianku
berlibur bersama "Bapak-Ibu" di Magelang. "Ayo, Ndok, Abi nanti telat loh kalau kamu terus ngobrol sama Umi," tegurnya santai. Ish, padahal
aku lagi minta ke Umi buat bujuk ayahku itu. Berharap bisa dapat solusi, dengan berubah pikirannya Abi mau lebaran di kampung halaman. Abi juga kampungnya di Jawa Tengah. Di Wates, sekitar 1,5 jam dari Magelang. Banyak saudara Oma, ibunya Abi, di daerah situ. Kami cukup sering sekalian silaturahmi saat liburan liburan sebelumnya. Aku sungkem ke Abi, dan Abi mencium keningku. Ritual kami setiap kali berpisah di jam sekolah dan jam kerja pagi hari. "Soal pulkam, insya Allah Abi sudah obrolin sama Umi. Kakak bantu doa saja, ya." Lagi-lagi doa, pesan orang tua ke remaja zaman now yang sukanya instan. Naluri alami, sedikit banyak dipengaruhi lingkungan. Walau begitu, aku tetap berdoa. Yakin 100% kalau Allah tahu yang terbaik bagi kami. Benar saja, malamnya aku diberi kabar oleh Umi, "Kak, Abi oke kita liburan lebaran di Magelang. Tapi satu
syaratnya, kita gak pakai mobil, tapi kereta. Gimana?" YES! Aku mengangguk-angguk tanpa henti, pertanda setuju. Yang penting ke Jawa.
Repot naik transportasi umum, urusan nanti

Bahagia Berhari Raya

Belakangan baru kutahu alasan Abi menolak permintaanku pertama kali. Ada dua alasan, pertama karena khawatir dengan kondisi kesehatan Oma-Opa; kedua karena "jatah pakai"
mobil keluarga bentrok dengan saudaranya yang lain. Karena itulah, Umi meminta pengertianku agar mau naik kereta api. Bagiku mungkin tidak
masalah, tapi bagi adik bungsuku yang belum 3 tahun bakal merepotkan mereka. Ini baru kusadari di sepanjang perjalanan. Ternyata orang tua benar-benar memikirkan risiko segala
sesuatunya. Sementara aku, bisanya hanya meminta agar keinginan pribadi terkabul. Astaghfirullah.

Temu kangen pun terjadi dengan keluarga Magelang. Setelah kurang-lebih 9 jam perjalanan
kami dengan kereta api dan jemputan mobil suami tanteku dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.
Alhamdulillah, saat itu kami tidak
kekurangan transportasi pribadi. Tetap ada mobil di kampung, jadi bisa ke mana-mana tanpa khawatir berlebih. Serunya melihat lagi keponakanku yang imut. Kini dia punya adik cowok, manjanya bukan main dengan tante,
yang bikin iri kakaknya yang cewek tadi. Om-ku yang laki-laki, tetep tampan meski terlihat kurus. Sepertinya masih terjebak di masa lalu, belum move-on dari mantan istrinya. Adapun "Bapak" dan "Ibu", mbah kakung dan mbah putri, tampak sumringah sekali atas kedatangan kami. Jiwa "ngemong" muncul lagi.
Dari Stasiun Senen, Jakarta Pusat, kini kami berada di Kampung Tidar Selatan. Sekilas aku memperhatikan ekspresi wajah Abi, yang masih khawatir terhadap ayah dan ibunya. Maklum,
keduanya sudah menderita komplikasi penyakit. Pernah, cerita Abi ke Umi, Oma dirawat sebulan penuh di RSCM. Abi yang terus menemaninya, sampai hampir mengeluarkannya dari pekerjaan sebagai editor. Masya Allah, begitu berbaktinya ayah sambungku ini. Terbayang olehku, bisa jadi ini adalah "jalan jodoh" Abi hingga bertemu Umi.
Umi sendiri tampak gembira, walau paham kalau lama di kampung bakal bikin suaminya itu jenuh. Paling solusinya diajak ke pasar Gotong Royong, berduaan, dan dulu hal ini bikin aku iri juga. Selama di sana kami berbagi pengalaman hidup. Sesekali aku mendengarkan obrolan Abi-Umi
dengan "Bapak-Ibu". Aku sendiri sibuk bermain dengan teman masa kecil, juga menyusun rencana jalan-jalan dengan adik bungsu Umi yang hanya terpaut 8 tahun dariku. Aku menganggapnya kakak kandung, sejak bayi kami
sudah seperti itu. Sulit bagiku menerima kenyataan kalau kini ada di posisi anak sulung. Ini dilemaku, berujung di rasa tidak lagi disayang.
Terkhusus oleh Umi, dan inilah yang sering bikin Abi marah. Iri hati yang berdampak pada tidak peduli terhadap diri sendiri. Juga sibuk sendiri, kurang mau bersosialisasi. Sedikit demi sedikit
aku menyadari, walau sulit sekali berubah menjadi anak yang mandiri, salehah, dan berbakti sesuai keinginan Umi-Abi.

Seperti biasa, saudaraku datang mengunjungi kami. Di situ aku dan keluarga intiku langsung menyapa mereka,
melepas rasa rindu, rutinitas harian yang membawa tekanan pikiran. Penat hilang sekadar jalan-jalan di alun-alun. Sekedar dibelikan es krim sama "Om ganteng". Sekadar makan bakso di pinggir jalan. Semuanya murah, Umi pun senang sekali. Kembali ke masa kecil, memori penuh kenangan. Aku pun demikian. Sampai hari raya tiba, kami semua
bahagia. Takbiran malam sebelumnya tak kalah seru. Shalat Ied berjalan khusyuk, khutbahnya benar-benar menyentuh. Sungkeman dan memaafkan antar keluarga dan lingkungan sekitar selalu jadi momen tak terlupakan. Aneka hidangan di hari-H Lebaran tersedia lengkap.
Ketupat dan opornya. Emping dan abonnya. Juga snack yang melimpah. Belum lagi silaturahmi kami ke Kebumen, bertemu keluarga besar
Foto-foto selfie penuh kenangan otomatis memenuhi memori HP.

Ada harapan lain di lubuk hati terdalamku. Yaitu bertemu dengan ayah-ibu dari ayah kandungku.
Dahulu Abi dan Umi pernah mengajakku ke rumah mereka di Salaman, sewaktu masih SD. Saat ini kesempatannya, jika ayah pulang kampung juga. Qadarallah, dia tetap di
Cimanggis bersama istri barunya. Kembali lagi, harus ridha terhadap keinginan yang tidak tercapai. Belajar lagi. Tidak boleh dikit-dikit ngambek, apalagi menyalahkan orang tua.
Berpikir positif, ingat kalau ternyata banyak kebaikan yang kita dapat walau tak pernah terbayang bakal diraih.
Bahagia itu sederhana, sering sekali Abi bilang begini. Mensyukuri apa yang kita punya. Tidak menoleh pada nikmat yang diperoleh orang lain. Selalu memaafkan kesalahan, terlebih terhadap keluarga sendiri. Tidak boleh berprasangka buruk atas kondisi yang tidak berpihak kepada kita. Karena kebahagiaan itu, sejatinya, bergantung
pada persepsi kita sendiri. Liburan kali ini memberiku pelajaran penting, kalau bersama keluarga, apa pun bisa dilalui. Tidak masalah kini aku menetap di Jakarta, ataupun nanti jika ingin kembali di Magelang, toh ada alat komunikasi yang menjembatani di kala kangen. Suka-duka hidup di dunia, asal dijalani dengan sabar dan ikhlas, insya Allah menjadi bekal pahala menuju surga di akhirat kelak. Aamin..

DEAR KELUARGAKU!
Aulia Rosida Taufik
10 juli 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DEAR KALBUKU

DEAR SAHABATKU

DEAR UMIKU