DEAR BAPAK IBUKKU
Kali ini aku ingin bercerita, atau lebih tepatnya mencurahkan isi hatiku, tentang masa kecilku bersama kakek-nenek yang kupanggil Bapak-Ibuk. Masa sebelum usiaku genap 7 tahun, saat Abi menikahi Ummi dan membawa sertaku tinggal di Jakarta. Bapak dan Ibuklah yang merawat dan mengurusku di Magelang, sejak masih bayi, karena ayah dan ibu kandungku punya takdir masing-masing. Keduanya ditakdirkan tak lagi bersama. Cerai hidup.
Aku memang terbiasa memanggil keduanya "Bapak" dan "Ibuk", meskipun seharusnya aku memanggil mereka "Mbah Kakung" dan "Mbah Putri". Ummi yang memilihkan panggilan tersebut. Bisa jadi, untuk mengalihkan perhatianku dari Ayah yang tak lagi membersamai kami. Agar keduanya menjadi seperti ayah dan ibu sendiri, merasa memiliki orangtua lengkap. Begitu juga dengan anak bontot Ibuk, adik Ummi yang paling kecil, aku memanggilnya "Mbak", padahal seharusnya kupanggil "Tante".
Ingatanku mulai kuat di usia 5 atau 6 tahun. Di kala itu aku bersekolah di SD Rojowinangun 03. Ummi-dulu kupanggil dia "Mama"-bolak-balik pulang kampung. Dia sering memberi kabar begitu dapat libur kerja di Jakarta. Saat itulah momen terbaik bagiku, akhirnya kami bertemu langsung. Jarak dan waktu memisahkan kami. Biasanya Ummi selalu membawakan sesuatu-mainan, makanan, atau barang-barang lainnya. Bapak dan Ibuk pun ikut cerita, ikut bahagia menyambung kedagangan putri sulungnya tersebut.
Selama di Magelang, Ummi yang mengantarku sekolah. Biasanya, aku diantar oleh Bapak. Begitu pula saat pulang sekolah, terlihat Ummi menungguku di kantin seberang sekolahku. Ummi bekerja sebagai perawat di Jakarta, di RS ternama. Profesinya ini membuat Bapak dan Ibuk bangga, sebab ada anaknya yang sukses. Itu dari sisi duniawi. Di luar gagalnya pernikahan Ummi dengan Ayah. Itulah plus-minus kehidupan, takdir tak selamanya berpihak pada kita. Aku pun demikian, terbawa takdir ilahi yang pasti terbaik bagi Allah untuk kami.
Setiap kali waktunya Ummi kembali ke Jakarta, aku tidak pernah diberi tahu Bapak-Ibuk. Karena aku masih kecil, belum dewasa seperti keduanya. Juga Om, Tante, atau Mbakku yang otomatis diberi tahu. Bisa dimaklumi, karena kalau diberi tahu, pasti aku akan menangis dan tidak mau sekolah. Tidak ingin berpisah. Meninggalkan trauma yang hingga kini belum juga terhapus sepenuhnya. Pada momen inilah Bapak berperan besar. Aku dialihkan perhatiannya oleh beliau. Kadang aku diajak beli es krim ke mini market. Kadang aku diajak muter-muter naik motor. Kadang aku diajak pergi ke rumah saudara Ibuk. Semua demi kebaikanku.
Ummi selalu membuat kenangan bersamaku setiap kali pulang kampung. Baik itu dengan foto berdua, pergi ke pasar dengan keluarga, makan bakso bersama di rumah, dan kegiatan positif lainnya. Aku sadar, ternyata momen-momen indah itu sengaja dibuat supaya aku tidak menangis berlebihan di kala waktu perpisahan tiba. Sedih boleh, tapi sewajarnya. Bahkan sebenarnya, Bapak-Ibuk juga ikut sedih. Terbukti keduanya suka terdiam begitu Ummi sudah pergi kembali ke Jakarta. Sekilas aku teringat wajah sendu mereka saat itu.
Suatu ketika di hari kembalinya Ummi ke Jakarta, aku yang tidak tahu apa-apa tetap sekolah dan belajar seperti biasa. Bapak-Ibuk bersikap biasa, tetap cerita. Sama halnya dengan Ummi, aku tak bisa melihat tanda-tanda dia akan pergi. Paling yang aneh bagiku saat itu, Ummi berkali-kali memelukku. Juga, matanya berkaca-kaca. Dulu aku tak tahu kalau itu tanda seseorang menahan air mata. Lalu saat pulang sekolah, aku kaget karena yang menjemput adalah Bapak-Mbah kakungku. Sesampainya di rumah, aku merasa rumah begitu sepi. Ibuk tampak lesu, kurang semangat, tersenyum seadanya. Saat itulah aku langsung tahu, Ummi sudah naik kereta balik ke Ibu Kota. Aku pun berlari masuk kamar, mengambil baju Ummi, dan menangis sejadi-jadinya. Sedih luar biasa. Saat inilah kurasa dan kuingat betul kebaikan Ibuk-Mbah putriku. Spontan beliau duduk di sisiku. Menenangkanku. Memberi tahu kalau Ummi bakal kembali sebulan lagi. Aku diminta mendoakan keselamatannya sampai di Jakarta. Juga dijanjikan kalau nanti bisa menelpon sebagai obat kangen. Bahkan ditawarkan mau beli apa, atau mau jalan-jalan ke mana, sementara Bapak siap sedia di depan ruang keluarga kami. Spontan kesedihanku mereda, dan suara tangisku perlahan hilang.
Bapak-Ibuk, mereka seperti orang tuaku sendiri. Jika aku ingin sesuatu, keduanya selalu berusaha mewujudkannya. Membelikan makanan dan minuman kesukaan. Belum lagi pakaian dan mainan, walau lebih banyak Ummi yang membelikan. Sejak lahir aku tinggal bersama mereka, maka begitu aku diboyong ke Jakarta oleh Abi, tentu rasa kehilangan begitu terasa. Rasa kangen tak terhingga hadir. Tapi aku harus memilih, di antara dua orangtua yang sama-sama menyayangiku. Tinggal berjauhan dengan orang-orang tercinta memang sesuatu. Sesuatu yang tidak mudah, terlebih di usiaku yang belum dewasa seperti sekarang. Belajar mandiri tak semudah perkataan, bahkan sampai saat ini ketika aku kembali ke Magelang demi menuntaskan sekolah di Madrasah Aliyah Al-Iman.
Bapak-Ibuk dikenal sebagai pribadi pekerja keras. Ibuk biasanya memasak nasi dan lauk-pauk di malam hari, mulai pukul 20.00 hingga 23.00. Lalu beliau tidur, dan bangun lagi di sekitar jam 02 dini hari. Segera beliau membungkus masakan semalam untuk dijual di Pasar Tidar Magelang-dikenal juga dengan Pasar Gotong Royong. Mayoritas dagangan itu dijual langsung empat mata, namun beberapa dititipjualkan ke temannya. Rutinitas ini dijalani Ibuk hampir setiap hari. Tidurnya pun beberapa jam saja. Aku tahu persis, karena tidak jarang aku ikut membantu beliau mempersiapkan dagangan pasar di malam hari.
Sementara Bapak, beliau bekerja mulai pukul 21.00 dan pulangnya tengah malam. Bahkan tak jarang melebihi jam 12 malam. Bapak bekerja di sebuah warung atau kios sewaan dekat pasar tempat Ibuk berdagang. Di sana beliau bekerja sendirian, menjaga toko kelontong. Jika hasil penjualan di malam hari sedang sepi, kegiatan berjualan dilanjutkan beliau esok harinya. Namun jika dagangannya laris, alhamdulillah, Bapak pun membelikan jajanan seperti es krim untuk cucu-cucunya: aku dan kedua anak Tante.
Ibuk adalah tipe orang yang jarang mengeluh. Saat sedang butuh bantuan pun, beliau memilih diam, tidak bilang ke Bapak ataupun anak-anaknya. Meski lelah, beliau tetap menjalankan rutinitasnya. Dengan bantuan Bapak, Ibuk membuka warung sembako di rumah. Secara bergantian yang paling sering menjaga warung itu. Kadang-kadang Om, Tante, atau Mbak bantu jaga warung kami, termasuk aku. Tapi tetap peran utamanya ya Ibuk. Tapi untuk urusan gas, Om dan Bapak yang turun tangan. Kerja sama mencari nafkah keduanya membuatku bersemangat. Semangat belajar, walau hingga kini aku masih dihantui problem pertemanan. Harus bisa mengubah pola pikir, bahwa keluarga adalah teman sejati kita. Tak boleh bergantung pada teman sekolah, bisa-bisa stres sendiri dan galau tanpa alasan logis.
Setiap hari libur, terutama hari Minggu, Bapak-Ibuk punya agenda rutin. Agenda ukhrawi, di luar berdagang yang termasuk agenda rutin duniawi. Mereka sebisa mungkin mengikuti pengajian, asuhan Kyai yang membahas pengetahuan agama. Keduanya suka mengajakku ikut serta, begitu pula saat Ummi-Abi pulang kampung. Kami biasanya berangkat bersama naik angkot-dulu naik Ergi mobil Abi-dan pulangnya naik angkot lagi. Karena terburu-buru mengejar waktu, seringnya kami tidak sempat sarapan di rumah. Solusinya, Ibuk menyiapkan bekal untuk dibawa. Sesampainya di tujuan, bekal nasi bungkus pun kamu buka dan dimakan bersama. Kadang setelah kajian kami pun jajan, sebab selain banyak jamaah, di sana banyak pula orang yang berjualan. Ini momen yang akan selalu kukenang sepanjang masa, berharap bisa kuteruskan walau Bapak-Ibuk sudah tiada.
Momen lain yang layak diabadaikan adalah ketika Ibuk diberi hidayah untuk menunaikan umrah ke Mekah, Arab Saudi. Rezeki tak terduga membuat Mbah putriku ini mendapat kesempatan emas pergi ke dua Kota Suci umat Islam sedunia, termasuk Madinah. Bersama teman-teman sesama pedagang Pasar Gotong Royong, Ibuk mendaftarkan diri di salah satu travel haji-umrah. Seluruh keluarga pun datang untuk bertemu dan mengantar beliau, termasuk Ummi dan tiga adikku. Sayangnya, Abi berhalangan hadir karena waktunya bertepatan dengan tugas kerja Kantor: ada pameran buku akbar di Senayan. Keluarga Ibuk yang mayoritas tinggal di Kebumen pun berkumpul. Beberapa dari mereka menginap beberapa hari, membantu keluarga inti mempersiapkan keperluan umrah. Sebelum hari keberangkatan, kami mengadakan syukuran di rumah. Lalu di hari-H keberangkatan, kami semua-Mbak, Tante, Ummi, trio Bocil, Om Agus, dua keponakan lucu, juga saudara-saudari Ibuk-berkumpul untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Kami juga melakukan tradisi pembasuhan kaki dan sungkeman antara Ibuk dan keempat anaknya, yang diinisiasi Ummi. Di momen itu, kami saling meminta maaf dan menangis. Suasana haru meliputi keluarga kami.
Menjelang tengah malam, Ibuk bersama rombongan jamaah umrah dari Magelang pun diminta berkumpul di satu titik keberangkatan. Diantar oleh Bapak sang suami tercinta, juga beberapa saudara, termasuk aku di dalamnya. Keluarga besar sudah berpamitan dan mendoakan agar beliau selamat sampai tujuan dan ibadahnya lancar. Di tempat keberangkatan, aku melihat banyak bus berjejer
menunggu para jamaah. Setelah transportasi yang akan ditumpangi ibu tiba, beliau naik ke dalam bus. Kami yang mengantar menunggu sampai bus benar-benar berangkat. Ketika bus mulai berjalan, kami pun melambaikan tangan, berpamitan untuk terakhir kalinya-dengan perasaan sedih bercampur bangga karena Ibuk bisa mewujudkan impiannya melihat Kakbah di Makkah. Dan alhamdulillah, Ibuk tidak menemui hambatan berarti selama mengerjakan ibadah umrah. Begitu pula selama perjalanan. Aku hanya bisa berharap Allah menerima segala jerih payah beliau.
Demikianlah yang dapat kuungkapkan seputar Mbah kakung dan Mbah putriku, yang akrab kupanggil Bapak-Ibuk. Meskipun sedikit, insya Allah pasti bermanfaat. Untuk diriku yang utama, juga untuk keluarga tercinta, pun siapa saja yang membaca tulisan ini. Keduanya sosok orangtua pertamaku. Yang pertama memperkenalkanku pada dunia. Alhamdulillahilladzi tatimmush shalihat.
Komentar
Posting Komentar