DEAR PELIHARAAN KU
Aku bukan tipe gadis yang suka binatang. Sampai umur sepuluh tahun, aku merasa jijik pada kucing. Mereka menjilat tubuh sendiri, buang kotoran sembarangan, dan bulunya… bisa menempel di mana-mana. Rasanya seperti sesuatu yang tak bisa kukendalikan. Aku merasa jijik, tapi di saat yang sama juga takut. Mungkin itulah alasan aku menjauhinya selama ini.
Namun, entah kenapa suatu hari aku tiba-tiba meminta kucing pada Ayah kandungku. Aneh memang, karena kami tidak dekat. Sejak bayi, aku tak pernah diasuhnya. Tapi di saat itu, keinginan punya kucing tiba-tiba muncul begitu saja dalam hatiku. Dan yang lebih aneh lagi, permintaan itu dikabulkan.
Datanglah seekor anggora putih bermata biru jernih. Namun yang menarik bukan hanya kucingnya, melainkan juga kandang cantik yang membungkusnya—hadiah dari Bunda, istri baru Ayah. Kandang plastik warna pastel dengan pintu kawat yang rapi, seperti sebuah istana kecil untuk Puspa, begitu kami menamainya. Nama itu kami pilih karena bulunya seputih bunga dan wajahnya lembut seperti mawar.
Awalnya aku tak berani menyentuhnya. Aku masih takut dan merasa canggung. Namun waktu terus berjalan, dan Puspa tumbuh menjadi bagian dari rumah kami. Aku mulai berani menyisir bulunya, memandikannya bersama Umi. Ia bahkan tidur di dekat kakiku di malam hari. Umi, yang awalnya risih, pelan-pelan belajar mencintai Puspa. Abi pun terlihat bangga, walau tak pernah mengatakannya secara langsung.
Namun, hidup tidak selalu mudah. Rumah kami makin sempit, dan beban biaya hidup makin menekan. Dengan berat hati, akhirnya Puspa diberikan kepada Anti, saudari Abi. Aku hanya bisa diam, menahan perasaan sedih yang dalam. Namun malam-malam berikutnya, aku mulai merindukan langkah kecil Puspa di lorong rumah, suaranya yang lembut saat berlari, dan kehadirannya yang menghangatkan.
Beberapa bulan kemudian, datang Ori. Seekor anggora oranye, anak dari Puspa, yang diberikan Anti padaku. “Ini anaknya Puspa. Rawat ya,” katanya dengan senyum lembut.
Aku menerima Ori dengan hati yang hangat dan penuh harapan. Ia bagaikan lembaran baru, membawa serpihan masa lalu yang kusimpan rapi. Ori manja, penurut, dan seolah bisa membaca perasaanku. Ia sering menungguku pulang sekolah, duduk di dekat kakiku saat aku lelah. Pernah suatu kali, saat aku menangis karena masalah sekolah yang tak sanggup lagi kutahan, Ori mendekapku dengan lembut, seolah ingin berkata, “Aku ada di sini untukmu.”
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Suatu hari, Ori mulai lemas. Nafasnya pendek, matanya merah dan berair. Ia bahkan tidak mau makan. Aku dan keluarga panik. Tapi kondisi kami yang sedang sulit membuat kami tak punya cukup uang untuk membawa Ori ke dokter. Abi dan Umi sudah menunggak banyak tagihan, dan aku merasa putus asa.
Aku memberanikan diri menghubungi Ayah kandung—sesuatu yang jarang kulakukan. Dengan tangan gemetar, aku menekan nomor teleponnya. Setelah dering cukup lama, akhirnya suara Ayah terdengar.
“Ayah?” Suaraku bergetar. “Aku… aku butuh bantuan. Ori sakit parah, dan kami tak mampu membayar klinik untuk perawatannya.”
Ada keheningan sejenak. “Kamu di mana sekarang?” tanya Ayah dengan suara berat.
“Aku di rumah, tapi Ori harus segera dibawa ke dokter. Tolong, aku butuh uang untuk biaya perawatan,” kataku hampir menangis.
“Ayah segera kirimkan,” jawab Ayah singkat, tapi nada suaranya mengandung kepedulian. Aku tahu dia juga dalam posisi kesulitan ekonomi.
“Terima kasih, Ayah. Aku janji akan merawatnya dengan baik setelah sembuh,” ucapku penuh harap.
“Terima kasih, Ayah. Aku janji akan merawatnya dengan baik setelah sembuh,” ucapku penuh harap.
Telepon pun terputus. Hati ini berdebar-debar, namun aku merasa ada secercah harapan.
Dokter bilang Ori terkena calicivirus—penyakit menular yang menyerang mulut dan mata kucing, dan bisa fatal bila terlambat ditangani. Dan kami… memang sudah terlambat.
Ori harus diinap di klinik. Aku dan Umi pulang malam itu dalam keheningan, berdoa semoga masih ada harapan. Tapi tak lama kemudian, telepon berbunyi. Abi mengangkat, dan dari nada suaranya, aku tahu harapan itu telah padam.
Kami disuruh segera ke klinik, karena kucing kami sudah tidak bernyawa. Sesampainya di sana, Abi menjemput jasad Ori. Ia mengajakku ikut. Di rumah, aku membuka kafannya sendiri. Tubuh Ori ringan dan dingin. Matanya sudah tertutup, seolah sedang tertidur lelap, tapi tidak lagi bernapas.
Kami menguburkannya di kebun kecil dekat kontrakan. Aku, Abi, Umi, dan adik-adikku ikut mengantar. Tidak ada upacara khusus. Hanya keheningan yang berat, dan doa yang mengalir dari dalam hati.
Setelah selesai mengubur jasad Ori, aku menaburkan bunga-bunga yang kubawa, memetik beberapa bunga dari pohon di sekitar, lalu meletakkan tangkai kayu dan batu sebagai tanda penghormatan terakhir. Aku merasakan sebuah kehilangan yang dalam, tapi juga sebuah pelajaran berharga.
Abi lalu duduk di sebelahku, menatap tanah tempat kami menguburkan Ori. Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara lembut, “Kematian itu memang sesuatu yang pasti akan menimpa siapa saja, Nak. Tidak hanya manusia, tapi semua makhluk hidup—termasuk kucing kesayanganmu ini.”
Aku menatap Abi, mencoba memahami kata-katanya.
“Ada yang namanya sakaratul maut, masa sakarat kematian, saat makhluk hidup meninggalkan dunia ini. Kucing juga mengalaminya, merasakan sakit dan kesedihan saat ajal tiba. Bedanya, mereka tidak akan dihisab, tidak perlu mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat selama hidupnya di dunia ini"
Abi menatap wajahku penuh makna. “Itu membuat kita belajar sesuatu yang sangat penting. Hidup ini sementara, dan makhluk sekecil apa pun punya hak untuk kita sayangi dan hormati. Karena mereka juga ciptaan Allah, yang punya perasaan dan bisa merasakan kasih sayang kita.”
Aku mengangguk, perasaan itu mulai menyatu dalam hatiku. “Jadi, mencintai binatang itu bukan hanya tentang merawat mereka, tapi juga mengingatkan kita akan nilai kehidupan dan kematian.”
Abi tersenyum kecil. “Benar. Dengan mencintai dan merawat binatang, kita belajar menjadi pribadi yang lebih penyayang, lebih sabar, dan lebih siap menghadapi segala yang terjadi dalam hidup. Itu harapan Abi untuk kalian semua, supaya kalian tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya peduli pada sesama manusia, tapi juga pada seluruh makhluk hidup.”
Pesan Abi itu selalu kuingat dan kubawa dalam hidupku. Aku tahu, meskipun kehilangan Ori sangat menyakitkan, pengalaman ini mengajarkan kami untuk lebih peka dan peduli, bukan hanya kepada binatang, tapi juga kepada sesama manusia.
Kini aku sudah 17 tahun. Tujuh tahun sejak aku belajar membuka hati untuk makhluk hidup, walaupun dulu aku jijik dan takut. Aku belajar bahwa mencintai makhluk kecil ini adalah bagian dari menjadi pribadi yang lebih baik dan penuh kasih. Dan melalui semua ini, aku belajar bahwa walau hidup penuh tantangan dan kehilangan, mencintai dan merawat makhluk kecil seperti kucing mengajarkan kami arti kesabaran, harapan, dan rasa sayang yang tulus.
Karena itulah kami tidak jera atau putus asa dalam merawat binatang, terutama kucing. Setelah Puspa dan Ori, ada lagi Onyo dan Moza: duo kucing kampung yang lucu. Onyo diambil dan dirawat pada saat Umi jenuh dengan kondisi rumah. Kemudian Moza, kucing ini aku yang temukan dan meminta dibawa pulang sebagai teman baru adik-adik setelah dilepaskannya kucing kampung yang pertama.
Untuk dua kucing peliharaan terakhir, biar Abi-Umi saja yang menceritakannya. Kenapa? Karena saat mereka dipelihara, aku berada di Magelang. Hijrah untuk memulihkan kesehatan fisik dan mentalku. Selain sebagai refleksi pribadi kembali bersama Mbah Kakung dan Putriku, menemani mereka di masa tua sambil melanjutkan sekolah menengah di MA Al-Iman. Pasca mengundurkan diri dari SMA 63, lingkungan yang membuatku tak nyaman.
Puspa, Ori, Onyo, dan Moza; mereka bukan sekadar kucing. Mereka adalah guru-guru kecil yang mengajarkan aku arti cinta, kehilangan, dan harapan. Dulu aku tidak paham. Sekarang aku tahu, betapa pentingnya mencintai makhluk hidup lebih dari benda mati yang hanya bisa memikat tapi tak pernah peduli. Kucing-kucing itu mengajariku, bahwa cinta bukan soal sempurna atau mudah. Tapi soal berani menyayangi meski ada risiko kehilangan. Alhamdulillah ala kulli hal.
Komentar
Posting Komentar