DEAR ABIKU
Di Masjid Istiqlal, Umi dan Abi pertama kali bertemu. Mereka mulai saling mengenal dan berencana untuk menikah. Waktu pun berlalu hingga akhirnya tiba hari pernikahan yang dilangsungkan di kampung halamanku.
Saat itu, aku melihat mobil Ergi datang. Abi mengenakan baju koko putih dan datang bersama keluarganya, yaitu Opa, Kakak Erin, Bude Yuli, Pakde Kris, dan Aunty Santy. Mereka hadir untuk menyaksikan akad nikah. Sementara itu, Umi tengah bersiap-siap menjelang acara.
Ketika waktu telah tiba, akad nikah pun dimulai. Setelah proses ijab kabul selesai, alhamdulillah, Umi dan Abi sah menjadi suami istri. Mereka saling mencium tangan, berfoto bersama dengan buku nikah dari KUA, saling menyematkan cincin, serta berpose bersama keluarga sebagai tanda kebahagiaan yang baru saja dimulai.
Abi, setelah aku mengenalmu, aku sempat bingung harus berbuat apa. Sebab Abi telah banyak berbuat baik kepadaku. Bahkan, Abi sering mengusahakan segala hal yang aku butuhkan, tanpa diminta.
Terima kasih saja rasanya belum cukup.
Abi masih ingat, kan, saat aku masih sekolah di SMA 63? Saat itu aku bilang membutuhkan laptop. Sebenarnya aku sudah punya, tapi laptop yang ada kurang sesuai-aku butuh laptop berbasis Android, bukan Macintosh. Waktu itu, Abi langsung berinisiatif mencarikan laptop untuk keperluan sekolahku.
Akhirnya, kita pergi ke sebuah toko elektronik di dekat Universitas Budi Luhur, Jakarta. Karena waktu sudah malam, kami tetap berusaha mencari dan akhirnya memutuskan untuk membeli laptop second (bekas). Tidak masalah, yang penting laptop itu masih layak pakai, tidak rusak, dan bisa membantuku belajar. Alhamdulillah, hingga sekarang laptop itu masih bisa digunakan, bahkan sempat menemaniku saat ujian.
Bagiku, laptop itu sangat istimewa. Aku tidak tahu saat itu Abi membelinya dengan uang dari mana. Tapi yang aku tahu, Abi sangat serius memilihkan laptop terbaik untukku-bukan sembarangan. Laptop itu bukan hanya benda, tapi bukti perhatian dan kasih sayangmu.
Selain itu, aku juga pernah punya keinginan besar untuk jalan-jalan ke Yogyakarta bersama keluarga. Saat itu, aku sempat mengajak Om, Tante, dan Mbakku, tapi semuanya sedang tidak bisa. Aku sempat kecewa, namun ternyata Allah memberikan jawaban dengan cara-Nya sendiri.
Ketika Ibuk hendak berangkat haji atau umrah, Umi pulang ke Magelang bersama ketiga adikku. Abi tidak ikut karena ada pekerjaan. Beberapa waktu kemudian, Umi mengajakku ikut ke Jakarta sebentar karena ada keperluan. Aku pun ikut bersama Umi dan adik-adik naik kereta dan tiba di Stasiun Pasar Senen. Di sana, Abi sudah menunggu untuk menjemput kami.
Setelah bersalaman dan mencium tangan Abi, kami naik grab dan pulang ke rumah. Malam itu kami beristirahat, dan keesokan harinya menjalani rutinitas seperti biasa. Abi berangkat kerja, adik-adik sekolah, dan aku, yang sedang libur, membantu sebisanya di rumah.
Setelah urusan di Jakarta selesai dan masa libur sekolah berakhir, aku harus kembali ke Magelang. Abi yang mengantarku. Tapi sebelum itu, aku minta izin untuk singgah dulu di Yogyakarta-kota yang sejak lama ingin aku kunjungi. Abi mengabulkan permintaanku.
Kami naik kereta dan berhenti di Yogyakarta. Kami menghabiskan waktu bersama di kota itu sebelum melanjutkan perjalanan ke Magelang. Setelah mengantarku pulang, Abi kembali ke Jakarta.
Hari-hari itu sangat berkesan bagiku. Terima kasih, Abi.
Aku tahu, betapa berat perjuanganmu dalam mencari nafkah. Tapi Abi selalu semangat, tidak pernah mengeluh, apalagi menyerah. Abi selalu ingat pada keluarga, dan itu membuatku kagum.
Aku selalu berdoa agar rezeki Abi dilancarkan, diberi kesehatan, dan kekuatan. Jangan pernah menyerah, ya, Bi. Ingat selalu bahwa kami ada untukmu: aku, Maz Rasyidz, Zaki, dan Acan. Semoga Abi tidak pernah berubah, karena aku sangat bersyukur memiliki sosok Abi seperti dirimu.
Abi adalah sosok yang luar biasa dan sangat istimewa.

Komentar
Posting Komentar